Bahas 'Revolusi Teknologi dan Transformasi Pendidikan', Para Intelek Tomohon Berembuk

KBRN, Tomohon: Sejumlah intelek muda kota Tomohon yang terkumpul dalam satu wadah bernama Forum Tomohon, berembuk bersama membahas 'Revolusi Teknologi dan Transformasi Pendidikan' di Wisma Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Tomohon, Kelurahan Kakaskasen, Kecamatan Tomohon Utara, Jumat (7/5/2021).

Ketua Cabang GMNI Tomohon, Leon Wilar mengatakan, fasilitas untuk menunjang kualitas pendidikan di kota Tomohon saat pandemi harus sesuai kebutuhan.

“Transformasi pendidikan saat ini harus sesuai dengan fasilitas yang memadai, karena saat ini kita dituntut belajar melalui daring (red,dalam jaringan) tapi masih banyak wilayah yang belum mempunyai fasilitas internet,” ujar Wilar.

“Konsep merdeka belajar masih belum sesuai dengan harapan. Tapi kita sudah masuk dalam ke kediktatoran digitalisasi. Jaringan internet saat perkuliahan hilang, mahasiswa jadi korban karena tenaga pendidik yang belum mampu menggunakan media belajar secara daring,” jelas Wilar.

Senada dengan itu, Ketua Gerakan Mahasiswa (Gema) Minahasa, Abraham Lintong mengatakan, berpikir luas terhadap perkembangan zaman merupakan keharusan, namun darah serta semangat keminahasaan harus dipertahankan.

“Revolusi teknologi dan transformasi pendidikan adalah keniscayaan. Lembaga pendidikan, pendidik dan peserta didik harus mampu beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang ada. Berpikiran luas dan bermental terbuka terhadap perkembangan zaman adalah keharusan, tapi darah dan semangat budaya lokal harus terus dipertahankan,” tegas Abraham.

Ketua Presidium Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Tomohon Cheryl Pukul berpendapat, banyak para pembuat kebijakan yang gagal paham dengan sistem pendidikan sekarang ini.

“Proses transformasi ilmu pengetahuan juga pengolahan pikiran dengan output, sebenarnya akan melahirkan generasi keterdidikan di masyarakat luas, namun sepertinya hal tersebut hanya ada dalam ruang imajiner. Kerena banyak pembuat kebijakan gagal paham filosofinya,” ungkap Cheryl.

Sedangkan Koordinator Daerah Badan Eksekutif Mahasiswa Nusantara (Bemnus) Sulawesi Utara, Kurnia Surentu mengungkapkan harapanya untuk pendidikan di kota Tomohon.

“Kota Tomohon bukan hanya disebut kota pendidikan saja. Namun jauh dari itu, pendidikan di Tomohon harus mencetak anak-anak muda yang berkualitas secara intelektual dan moral, kesetaraan pendidikan harus benar dirasakan oleh setiap anak muda di Tomohon. Pendidikan budaya pun harus ditanamkan bagi anak-anak muda di kota Tomohon, lewat wujud nyata pemerintah dengan menanamkan kembali budaya lokal bagi anak muda di kota Tomohon lewat pendidikan formal,” tandasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00