Keras Kepala, Pasien Terkonfirm Covid - 19 Asal Kiama Barat ' Dijemput Paksa '

KBRN, Talaud : Keras kepala dan tak mentaati protokol  atau juknis kesehatan pencegahan penularan Covid - 19 termasuk mengikuti isolasi mandiri sejak dinyatakan reaktif, hingga terkonfirm positif  Covid - 19 pada tanggal 24 Juli lalu berdasarkan hasil pemeriksaan swab ke dua  dari  Laboratorium BTKL Kemenkes  di Manado, pasien 16 ( 64 tahun ) asal Kiama Barat, Kecamatan Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud di evakuasi atau lebih tepat  '  dijemput paksa ', Senin (27/7/2020) di kediamannya.

Sebelum dijemput, Tim Satuan  Tugas Percepatan Penanganan Covid - 19 menggelar pertemuan di BPU Desa Kiama Barat yang dipimpin langsung Juru Bicara Satgas sekaligus Kadis Kesehatan dr. Kerry Monangin, ME.

Hadir pada kesempatan tersebut, Kasdim 1312/ Tld Mayor Inf Sigfried Panaha, Danramil Melonguane Lettu Inf Albert Essing, Kapolsek Melonguane Ipda Dedi Matahari, Kepala Pusksesmas Melonguane dr. Jois Manurip, Kabid P2P Fransina Awaeh,  sejumlah tenaga medis , personil Kepolisian, dan TNI AD, Kepala Desa Kiama Barat Karel Losoh bersama perangkat, serta sejumlah warga.

"  Sesuai protap atau juknis versi terbaru. Sebenarnya dari awal yang bersangkutan ( pasien konfirm 16 - red ) ketika kita ambil swab  karena punya riwayat kontak dengan pasien 06, kami sudah menganjurkan untuk isolasi mandiri sambil menunggu hasil swab . Sebenarnya kalo beliau sudah melakukan isolasi mandiri dengan baik walaupun positif, hasilnya keluar sudah 14 hari , dengan catatan tidak bergejala, beliau sudah bisa beraktifitas seperti biasa. Tetapi karena tidak melaksanakan isolasi dengan  baik, bahkan tidak melaksanakan protokol kesehatan dalam aktifitas sehari - hari selama diisolasi, otomatis kami akan mengisolasinya selama 10 hari lagi setelah berkonsultasi dengan dokter spesialis," ujar Jubir Satgas Covid - 19

Monangin mengungkapkan, sebelumnya tim kesehatan atau gugus tugas  tingkat kecamatan, puskesmas  dan polsek juga sudah mengedukasi yang bersangkutan, tetapi pasien 16 tetap tak melaksanakan protap kesehatan atau juknis.

"  Beliau seharusnya sejak sabtu kemarin sudah harus melakukan isolasi, tapi ternyata tidak dilakukan sehingga kami berkoordinasi dengan aparat keamanan untuk  meminta bantuan memback - up  karena kita harus melakukan pemeriksaan swab termasuk bagi kontak erat dengan beliau dua hari sebelum beliau diambil swab pertama pasien pada tanggal 6 Juli sampai saat ini . Kita akan lakukan  tracking yakni pengambilan swab. Desinfeksi di rumah - rumah juga akan dilakukan," tambah Monangin

Sementara itu,  Kapolsek Melonguane Ipda Dedi Matahari meminta agar informasi terkait perkembangan kasus Covid- 19 dapat disampaikan oleh Satgas Kabupaten kepada Satgas Kecamatan, agar mereka tau apa yang nantinya akan dilakukan.

" Informasi tolong di share ke kami. Orang ini di swab kapan ?, biar kami awasi sedetail mungkin. Terkait bapak ( pasien 16 terkonfirm covid - red ) ini, masyarakat meminta jangan diisolasi di disini karena sudah berapa kali dia melanggar. Masyarakat menuntut agar   orang ini harus diisolasi di RSB Gemeh. Kami berupaya menjaga agar suasana kamtibmas tetap kondusif," kata Matahari

Kepala Desa Kiama Barat Karel Losoh mengakui pasien tersebut memang sangat keras kepala dan tak mau menaati protokol. Dia sering berkeliaran ke sana - kemari bahkan berkumpul dengan warga pada berbagai kesempatan. Sehingga pemerintah desa dan warga sudah tak tahan dan melaporkannya kepada stakeholder terkait untuk ditangani lebih lanjut.

"  Pasien ini so lama  ditegur dan di suruh isolasi mandiri, tapi nda ja ba dengar deng keras kepala. Bahkan sering berkeliaran, buang ludah dan lender  dan ingus sembarangan meskipun sudah positif covid - 19. Orang ini terlalu kumabal, ja kasana kamari nda pake masker. Orangnya susah diatur, begitupun anak - anaknya. Kami minta tim gugus tugas atau satgas harus membawanya ke Rumah Sakit Gemeh, jangan isolasi disini. Bahkan kami warga desa kiama barat sudah tak enak hati kalau mo berkunjung ke Maredaren kiama deng kiama induk kami disebut pembawa corona," keluh Losoh

Hal senada juga disampaikan salah seorang relawan desa Novry Junginger.

"  Kami mengharapkan penanganan covid - 19 jangan main - main. Selaku masyarakat dan relawan desa kami memohon ini diseriusi," pinta Junginger

Untuk membawa pasien positif bergejala atau simptomatik  ini, paramedis harus mengenakan APD lengkap termasuk baju hazmat ke RSB Bergerak Gemeh dikawal aparat berwajib. Sedangkan KERT harus diswab dan menjalani isolasi mandiri di rumah.

Berdasarkan pantauan RRI, yang turun langsung dalam kegiatan tersebut adalah gabungan dari Satgas Covid - 19 Kabupaten, Kecamatan dan Relawan Desa. ( RT )

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00