'Kopi Tulang' di Tengah Pemakaman Belanda Kuno, Begini Ceritanya

Sensasi Ngopi Tulang di tengah Makam kuno menjadi sensasi tersendiri.
Kopi Tulang hasil budidaya di areal makam kuno.

KBRN,Malang: Mendengar 'Kopi Tulang' sebagian orang akan kaget. Apalagi jenis kopi ini disajikan setelah mengikuti tour malam di Kuburan Londo Sukun. Ya, kopi ini memang hasil budidaya kopi di areal makam belanda kolaborasi antara Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Kuburan Londo dengan UPT PPU (Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Pemakaman Umum) DLH (Dinas Lingkungan Hidup) Kota Malang.

Varietas kopi yang sudah ditanam sejak 3,5 tahun lalu di TPU Nasrani Sukun ini, sekarang sudah menunjukkan hasilnya. pohon-pohon kopi tumbuh subur di antara nisan kuburan bersama juga dengan tanaman lainnya.

"Kalau pohon kopi sedang berbunga, aromanya yang kuat bisa tercium oleh peziarah," kata Humas Pokdarwis Kuburan Londo, Hariani, Jumat (24/7/2020).

Aroma inilah, lanjut Hariani, yang kerap memperkuat  Nuansa muram, seram dibalut cerita mistis tentang areal kuburan Belanda,tetapi tidak sedikit pula yang menyebut tanah pekuburan subur. Di bawah tanah, tempat jenazah manusia dimakamkan itulah, tulang akan menjadi 'kompos alami' bagi tanaman kopi. Hal inilah yang kemudian Pokdarwis bersepakat memberi nama kopi tersebut dengan nama 'Kopi Tulang'.

Ia membeberkan, Ide awal pemanfaatan tanah makam menjadi lahan perkebunan kopi ini, lantaran semakin minimnya Ruang terbuka Hiaju di Malang. Tempat pemakaman umum sendiri sebagai salah satu ruang terbuka hijau bisa dimanfaatkan untuk menanam pohon tegakan produktif akan ada banyak manfaat secara ekologi dan ekonomi. Semakin banyak menanam pohon tegakan ini, makam juga nantinya bisa berfungsi sebagai paru–paru kota.

Permakaman dengan luas lahan 12 hektare di bawah Unit Pelaksana Teknis Tempat Pemakaman Umum (UPT TPU) Nasrani Sukun, Malang ini mendapatkan Bibit kopi dari Desa Peniwen, Kromengan, Kabupaten Malang. Sedangkan Pengelolaan buah kopi diserahkan ke Pokdarwis Kuburan Londo. 

Kelompok ini bekerjasama dengan salah satu keluarga ahli waris makam yang kebetulan memiliki bisnis kopi. Untuk roasting sampai pengemasan. Ada dua kemasan yang disediakan dengan ukuran 150 gram dan dijual seharga Rp 25 ribu. Sayangnya, Hariani mengaku, belum bisa memasarkan kopi tersebut secara luas.

“Produk Industri Rumah Tangga (PIRT) hingga kini belum ada. Dan pemasaran selama ini hanya dilakukan secara pre order atau menghubungi pengelola UPT. Walaupun begitu, Kopi Tulang ini telah lolos uji laboratorium dari Universitas Brawijaya pada tahun 2018 silam," tandasnya. 

Sementara, Yudha Prawira salah satu Barista di Elegant Warehouse yang juga menjadi salah satu peserta tour malam di Kuburan Londo menyatakan, 'Kopi Tulang' memiliki rasa yang khas, yakni Rasa tulang. 

"Karakteristik-nya pahit seperti Robusta Kopi Dampit. Overall enak sih, minumnya sambil mengingat kematian,” urainya.

Disinggung mengapa harus kopi yang ditanam? Ia menjelaskan, ditilik dari sejarahnya, Kuburan Belanda dan perkebunan kopi memiliki ikatan yang kuat. Lebih dari se-abad lalu, saat kopi jadi komoditas pertanian paling laku di Eropa, Pemerintah kolonial Belanda menerapkan sistem tanam paksa, mengeruk untung dari mengeskploitasi nusantara.

Dijelaskan, perkebunan kopi di Indonesia sekarang ini hampir semuanya adalah peninggalan masa kolonial Belanda 1870 - 1930. Terutama setelah pemerintah Hindia Belanda menerbitkan Undang-Undang Agraria.

Saat itu, kata dia, di wilayah Malang Selatan banyak dibuka untuk perkebunan kopi dan gula. Baik yang dikelola pemerintah kolonial maupun dikuasai perusahaan swasta asing. Sehingga membentuk sebuah kawasan penghasil kopi terkenal sampai sekarang yakni Amstirdam (Ampelgading, Tirtoyudo, dan Dampit).

Kala itu, Malang masih menjadi bagian dari Karesidenan Pasuruan. Maraknya perkebunan kopi itu, turut andil pula mempercepat perkembangan Malang. Hingga akhirnya ditetapkan Gemeente atau Kotapraja pada 1914.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00