Berburu Penangkal Corona ke Situs Ngawonggo

KBRN, Malang: Merebaknya Covid-19 tidak hanya mengancam keselamatan mereka yang sakit, tetapi juga mengancam banyak orang secara ekonomi, Akibatnya, banyak orang yang merasa stress dan tertekan dengan dampak ekonomi yang dirasakan sekarang. Karenanya banyak orang yang mencari tempat tenang untuk menjalankan social distances dan self isolated. Bukan bermaksud untuk tidak mematuhi aturan social distances dari pemerintah, tapi aturan #DiRumahAja masih memperbolehkan untuk keluar rumah mencari kebutuhan yang mendesak.

Tersebutlah sebuah tempat bernama Tomboan, persis berada di komplek Situs Ngawonggo di Desa Nanasan, kecamatan Tajinan Kabupaten Malang. Tidak sulit mencari tempat ini, karena berjarak tempuh hanya 5 menit saja dari kantor Kecamatan Tajinan, tinggal bertanya ke penduduk sekitar dimana letak Situs Ngawonggo, masyarakat sekitar akan dengan sukarela menunjukkan dimana tempatnya.

Berada di kompleks pemondokan nan asri di tepi sungai, bangunan yang berada di bawah kebun bambu ini menawarkan suasanya yang tenang sejak pertama kali menginjakkan kaki di kompleks ini. Gerbang dan beberapa bagunan yang ditata dengan arsitektur khas rumah tradisional Jawa Timur kuno menghiasi kawasan seluas 150 m2 ini. Sebuah artefak berupa Yoni yang ditemukan di komplek persawahan disana akan menyambut kehadiran kita, dan kursi kursi kayu siap menampung keluh kesah dan kepenatan kita akan hingar bingar dunia. Derit tanaman bambu tertiup angin dan kicauan burung menambah kental nuansa alam yang ditawarkan.

Rahmad Yasin, dari Pokdarwis Kaswangga yang bertugas mengelola situs Ngawonggo juga akan dengan senang hati menyambut kita. Sosok bersahabat ini, mengantarkan kita pada nuansa keakraban khas pedesaan, dan akan disambut cerita tentang situs peninggalan Empu Sindok dari kerajaan Sumedang Kamulan sambil diajak untuk menyusuri sungai menuju satu persatu Petirtan yang ada di sana. Ya, Situs Ngawonggo ini sendiri bukanlah situs tunggal, tapi merupakan kompleks Petirtan atau bangunan sumber air yang terdiri dari enam kolam dengan ukuran dan khasiat masing masing.

“Dulunya tempat ini semacam tempat pelatihan untuk para pendekar pada masanya, dan petirtan ini merupakan tempat penyucian sekaligus tempat peribadatan bagi mereka.” Yasin membuka cerita.

Yasin menambahkan, bahwa kajian sejarah dari situs yang memiliki nama asli Kaswangga ini didasari pada penelitian tim sejarah Universitas Negeri Malang pada Prasasti Wurandungan yang juga merupakan peninggalan masa pemerintahan Empu Sindok. “Berdasarkan catatan sejarah dari Prasasti Wurandungan tempat ini diresmikan Empu Sindok pada 7 November 944 masehi,” tambah Yasin.

Setelah puas diajak berkeliling, kita akan diajak kembali menuju kompleks pondok untuk mencicipi ramuan penangkal Corona racikan Abdullah Bilbas, pemuda yang juga memiliki kepedulian terhadap sejarah dan memilih untuk turut melestarikan Situs Ngawonggo.

Tak sekedar main main atau memanfaatkan trend, dua jenis racikan yang dia buat ini benar benar berkhasiat untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Racikan yang terdiri dari bermacam tumbuhan obat ini dia beri nama Tomboan, yang berarti “manfaat pengobatan”. Tak hanya satu, racikan Abink, sapaan akrabnya, ternyata meiliki dua racikan Tomboan. Racikan pertama adalah Tomboan Abang, dengan bahan utama Serai Merah, Secang dan Jahe Merah. Ramuan ini berkhasiat sebagai anti depresan, anti mikroba, anti bakteri, mengatasi peradangan  dan kaya kandungan anti oksidan. Sedangkan Tomboan Ijo mengandung Moringa, Serai dan Jahe. Ramuan ini berfungsi sebagi anti polutan, anti aging, anti stress, mengurangi peradangan, menurunkan kolesterol dan kaya akan anti oksidan.

Selain menikmati sajian Tomboan yang hangat kita juga bisa menghirup aroma rempah rempah tradisional yang menyegarkan, dipadu dengan suasana teduh nan damai, tentunya semakin menambah rasa damai yang kita dapatkan di tempat ini.

Disajikan di gelas kaca dengan tutup Bathok dan bisa direfill dengan air dari kendi, kita bisa sambil main Dakon di meja tempat minuman ini disajikan, plus sajian gorengan hangat semakin menyempurnakan suasana.

Abink bercerita, bila sajian yang dihidangkan, khasiatnya akan semakin kuat dengan ditambah suasana alam yang mendukung. “Bagi saya impact Corona tidak hanya bagi yang secara langsung terpapar virusanya, tapi juga orang orang yang terimbas secara ekonomi, pasti stress dan membutuhkan relaksasi” ujar lulusan Satra Perancis Universitas Negeri Malang ini. Pria yang pernah menyandang gelar Joko Kabupaten Malang ini juga meyakinkan bahwa Tomboan sangat aman sebagai pelarian dan tempat alternatif social distancing. “Daya tampung tempat ini tak sampai bisa lebih dari 15 orang untuk duduk dan tempat duduknyapun berjarak, jadi gak akan mungkin disidak satpo,l” selorohnya.

Tak perlu takut merogoh kantong terlalu dalam bila anda ingin menghabiskan waktu di tempat ini, karena tidak ada tarif khusus dari Tomboan dan keramah tamahan yang disajikan disini, anda cukup mengisi kotak Kasir Asih secara sukarela.

Mungkin tak harus saat ini kita mampir ke Tomboan, karena kebijakan social distancing pastinya tidak mengizinkan kita untuk pergi terlalu jauh dari rumah. Tapi, jangan khawatir, Tomboan akan selalu terbuka untuk anda, menyambut dengan kehangatan khas keluarga pedesaan, dan mengajak anda untuk merasakan kebahagiaan yang sederhana, merasakan kehangatan sederhana serasa di rumah sendiri.

Penulis: Rulli Suprayugo - RRI Pro2 Malang

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00