Prihatin Kondisi Sampah, Pasangan di Kota Malang Ciptakan iLitterless

Ence Adinda dan Mayedha, pasangan suami istri ini melakukan pemilahan sampah yang terkumpul di rumahnya

KBRN, Malang : Pengolahan dan pemilahan sampah menjadi isu yang kini mulai digencarkan terutama di kalangan generasi muda. Perkembangan Kota Malang yang notabene sebagai kota pendidikan seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Hal itu terlihat dari menjamurnya tempat ngopi atau cafe. Bahkan cafe kini menjelma menjadi rumah kedua bagi anak muda. Mereka lebih nyaman menghabiskan waktu atau mengerjakan tugas di kafe. 

Meski berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi, di sisi lain fenomena ini ternyata menimbulkan permasalahan penumpukan sampah. Sampah kafe mulai dari bekas minuman plastik, kotak susu, plastik air mineral, kaleng kental manis, bungkus mie instan, hingga botol beling sirup menambah deretan sampah anorganik.

Beruntung jika pengelola kafe berinisiatif melakukan pemilahan dan pengolahan limbah ini. Namun ada juga yang enggan melakukannya. Sehingga butuh gerakan sebagai upaya penyelamatan lingkungan. Salah satunya melalui organisasi bernama iLitterless. Gerakan ini diinisiasi oleh sepasang suami istri asal Kota Malang, Mayedha dan Ence Adinda. Mereka membentuk iLiterless sejak 2020 lalu.

Sesuai dengan namanya, gerakan ini bertujuan untuk mengedukasi pengelolaan sampah pada masyarakat terutama anak milenial. "Awalnya kami concern tentang sampah yang kami timbulkan sendiri dari aktivitas sehari-hari. Beberapa waktu lalu kami dapat banyak parcel dan hasil belanja bulanan banyak. Ternyata dari aktivitas itu menimbulkan sampah rumah tangga yang banyak, akhirnya saya mulai mencari cara mengelola sampah," kata Ence saat ditemui RRI di kediamannya kawasan kelurahan Kasin, Kecamatan Klojen Kota Malang, Jumat (20/5/2022).

Untuk mengetahui cara pengolahan sampah mulai dari jenis sampah, sistem pengumpulan dan pemilahan sampah, Ence mengunjungi Bank Sampah Malang (BSM). 

"Tetapi BSM tidak bisa jemput sampah jika jumlahnya kurang dari 50 kilogram, sementara sampah tiap rumah tangga kan tidak bisa sampai mengumpulkan 50 kilogram, akhirnya kami mulai kampanye personal, dari situ responnya menarik," tutur wanita 27 tahun ini.

"Melihat respon baik masyarakat dengan gerakan itu, kami pun siap menjembatani pengambilan sampah rumah tangga antara individu dan BSM," imbuhnya.

Gerakan Edukasi Pilah Sampah di Kafe

Selain menjembatani individu, Ence dan suaminya juga memanfaatkan jejaringnya dengan owner dan pekerja kafe. Mereka memperkenalkan gerakan iLitterless di sejumlah kafe untuk bersama-sama menggencarkan upaya pengolahan dan pemilahan sampah. 

"Gerakan dengan menyasar kafe kami awali dengan workshop soal pentingnya pilah sampah. Jadi kita harus edukasi dulu. Alasan kami memilih cafe ini karena melihat karakteristik Kota Malang. Tahun ini saja tercatat ada tambahan sekitar 300 kafe, otomatis timbulan sampah banyak, sehingga potensial untuk diorganisir," ujar wanita berkacamata ini.

Menurutnya, gerakan bertajuk #pilahsampahitumudah di kafe ini dilakukan sejak 2021 lalu dengan menggandeng lima kafe pelopor. Saat ini, jumlah kafe yang bekerjasama pun terus bertambah hingga 12 kafe.

"Namun kendalanya adalah kita masih kekurangan SDM, sebenarnya ke depan kita ingin memperbesar skala kafe. Sehingga saat ini 12 itu kami jadikan percontohan dulu. Sistem gerakan seperti babat alas, edukasi disampaikan ke pekerja kafe itu. Mulai dari training, pengangkutan sampah, perekapan, kemudian data diberikan ke owner kafe," paparnya. 

Gerakan di kafe ini tak sepenuhnya mulus. Mayedha mengakui jika terkadang mendapat tanggapan dari pekerja kafe yang menilai upaya pemilahan sampah ini justru menyusahkan. 

"Di kafe ini ada yang paham timbulan limbah itu menjadi tanggungjawab jawab. Tapi ada juga yang menganggap beban dan minta timbal balik dari iLitterless berupaya biaya pengangkutan. Inilah salah satu konsep yang mau pelan-pelan kita ubah mindsetnya," ujar Mayedha. 

Permudah Pilah Sampah dengan 'Mobi-RS'

Selain edukasi dan workshop, langkah nyata yang dilakukan iLitterless dalam gerakan ini adalah dengan menggagas pembuatan Mini on Boarding of iLitterless Recycling Station atau yang disingkat Mobi-RS. Alat berupa kotak berbentuk paus ini digagas untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang ingin mengumpulkan sampahnya dengan mudah. Alat itu diletakkan di kafe yang menjadi mitra iLitterless, tak hanya di Kota Malang, namun juga Surabaya. 

"Inovasi Mobi-RS ini semacam dropbox sebagai solusi untuk mendekatkan masyarakat terutama anak muda agar lebih mudah menyetorkan sampahnya. Jika diletakkan di kafe, pengunjung bisa ngafe sekaligus menyetorkan sampahnya," kata Ence. 

Ia berharap, Mobi-RS ini bisa terus dikembangkan dan ditambah jumlahnya. Sehingga bisa semakin banyak menjangkau sejumlah titik. 

"Ternyata inovasi ini juga disambut baik. Beberapa waktu lalu kami pasang di Vosco Coffee, hasilnya ada 20 kilogram sampah yang terkumpul. Kami targetkan bisa membuat 10 alat serupa," kata dia. 

Pasangan muda ini pun berpesan pada generasi milenial untuk memberikan langkah nyata demi lingkungan. 

"Kami sempat mengikuti FGD  soal pengolahan sampah. Dari obrolan itu, ternyata anak-anak muda paham soal isu lingkungan, tetapi tidak peduli. Karena generasi Z yang akan menghuni bumi, jadi sudah saatnya bagi kita untuk membuka wawasan mereka," tandasnya. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar