Sekolah Dinilai Masih Menjadi Hambatan Atlet Kota Malang Fokus Berlatih

KBRN. Malang: Ketatnya persaingan akademis membuat bibit-bibit atlet Bulu tangkis di Kota Malang sulit berkembang. Persatuan Bulu tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Kota Malang mengakui Dinas Pendidikan setempat saat ini masih jarang menggelar event atau kerja sama kegiatan untuk pembinaan atlet bulu tangkis usia dini.

Minimnya komunikasi, membuat PBSI kesulitan mengkader atlet muda. Induk organisasi bulu tangkis ini juga tidak bisa memaksakan keinginan anak untuk memilih antara fokus akademik atau olahraga.

Ketua Umum PBSI Kota Malang Herry Mursid mengungkapkan pihaknya banyak menerima aduan dari klub-klub yang ada. Mereka mengeluh, karena atletnya sekarang kurang dalam hal porsi latihan. Hal ini karena jadwal sekolah yang setiap hari sangat penuh dan padat.

"Untuk saat ini belum ada kerja sama antara PBSI Kota Malang dengan Dinas Pendidikan. Terutama yang difokuskan untuk dispensasi atlet, ketika tengah melakukan persiapan untuk menghadapi suatu kejuaraan, ungkap Herry Mursid, Minggu (8/11/2020).

Seperti halnya Kejurkot Bulutangkis 2019 yang telah digelar di GOR Djagung beberapa hari lalu. Sejumlah klub yang turun di kejuaraan tersebut mengeluh, karena hanya bisa menurunkan sedikit atlet. Hal itu, imbas dari kurang siapnya atlet dalam latihan karena jadwal sekolah yang padat. 

Sementara Ketua Koni Kota Malang Edy Wahyono mengakui keberadaan sekolah yang fullday sangat mengganggu atlit untuk berprestasi tinggi. 

"Berat memang untuk bisa memaksakan atlit untuk fokus pada latihan, sedangkan atlit disisi lain harus konsen pada pendidikan, rata-rata orang tuanya yang tidak Terima," ujar Edy wahyono.

Dari data yang ada selama ini kerja sama dengan Diknas hanya sebatas parsial. Ia menyebut misalnya memintakan izin untuk memberi dispensasi pada atlet saat ada kejuaraan . 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00