Kerja Paruh Waktu, Cara Mahasiswa Rantau Bertahan di Tengah Pandemi Corona

Aldira, Mahasiswa yang Tidak Pulang Kampung, dan memilih menjadi Barista selama Pandemi Corona.jpg
Jerry, memilih menjadi Fotografer lepas untuk menyambung hidup.jpg

KBRN, Malang: Pandemi Covid-19 memang berimbas pada seluruh aspek kehidupan, termasuk kepada mahasiswa yang menempuh pendidikan di Kota Malang. Sejak kebijakan mengubah seluruh kegiatan perkuliahan menjadi via daring sejak pertengahan Maret lalu, praktis membuat sebagian besar mahasiswa memilih untuk kembali ke ke kampung halamannya. Tapi sebagian lainnya masih ada yg memilih bertahan di Malang, dengan berbagai alasan.

Sebagian mahasiswa yang memilih bertahan di Malang karena memang akses menuju daerahnya seperti bandara dan lainnya sudah tidak lagi beroperasi, ada pula yang memilih bertahan karena faktor ekonomi. Seperti dilema Simalakama memang. Pulang tak bisa, bertahan di Malang pun serba kesusahan.

Menghadapi ini, berbagai cara dilakukan untuk dapat bertahan dan melanjutkan kehidupan. Seperti yang dialami Jeremy Abraham Rondonuwu, mahasiswa semester akhir jurusan Teknik Informatika Institut Asia ini. Dia memilih menjadi fotografer lepas untuk menambah uang saku. Bukan sekedar uang saku, tapi juga untuk memenuhi kebutuhan hidup pria yang akrab disapa Jerry ini selama di Malang.

Pilihan pekerjaan yang diambil inipun bukan tanpa risiko, karena peluang pekerjaan sebagai fotografer lepas di tengah pandemi inipun juga merupakan sebuah pilihan sulit. Karena pada saat ini tak banyak klien yang memanfaatkan jasanya karena memang banyak event yang ditunda atau bahkan dibatalkan semenjak Corona melanda.

“Selama Corona tak banyak job yang masuk, otomatis harus benar benar mengencangkan ikat pinggang, apalagi orang tua juga terdampak Corona, sehingga kiriman juga tersendat. Untung saya dan teman teman Ikatan Mahasiswa Palangkaraya mendapatkan bantuan makan dua kali sehari dari donatur," katanya.

Bersama dengan sekitar dua puluhan mahasiswa dari Ikatan Mahasiswa Palangkaraya lainnya, Jerry terpaksa bertahan di Malang, karena bandara Tjilik Riwut Palangkaraya memang telah ditutup untuk mencegah penularan Corona.

Waktu luang ini dimanfaatkan Jerry untuk menyelesaikan tugas akhirnya, agar bisa segera selesai. “Sambil ngebut menyelesaikan skripsi, syukur syukur selesai bersamaan dengan pandemi ini berahir,” tutupnya.

Lain cerita dirasakan Aldira Pramuditya Saputra. Mahasiswa management STIE Malangkucecwara, yang memilih menjadi barista di salah satu cofee shop untuk mengisi waktu selama pandemi berlangsung. Pria asal Ponorogo ini sadar, bekerja di tempat yang banyak didatangi costumer tentunya memiliki risiko kesehatan yang juga mengkhawatirkan. Tapi, diapun tak punya Pilihan.

“Ya, memang sebenarnya mengkhawatirkan karena berhadapan dengan banyak costumer, tapi ya saya anggab sebagai risiko pekerjaan. Sayapun bersyukur tempat saya bekerja tidak ditutup dan saya masih bisa bekerja," tuturnya.

Beruntungnya, di coffee shop tempatnya bekerja juga diterapkan protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19 pada karyawannya.

Sebenarnya, orang tua mahasiswa kelahiran 22 tahun lalu ini menginginkan anaknya pulang saja, tetapi hal ini juga dianggab cukup berisiko karena ditakutkan menjadi carier corona mengingat Malang dikategorikan sebagai daerah zona merah dengan angka penularan yang cukup tinggi.

Rasa rindu keluarga juga menjadi hal yang sangat memberatkan dalam menghadapi pandemi ini, karena biasanya mereka bisa menghabiskan waktu bersama saat puasa dan lebaran, terpaksa tahun ini harus menahan kerinduan secara langsung.

Jerry memilih untuk intens berkomunikasi bersama  keluarga dan teman dikampung melalui aplikasi panggilan video. “Dalam sehari kami beberapa kali menggelar doa bersama via daring. Selain untuk mengobati kerinduan, juga memohon agar wabah ini segera teratasi," kata dia.

Sementara itu, kerinduan Aldira terhadap orang tua dan keluarga terobati lewat kiriman makanan yang dikirimkan keluarganya melalui jasa ekspedisi. “Alhamdulillah orang tua mengirim satu kardus bumbu Pecel dan Jenang Mirah khas Ponorogo, lumayan jadi obat kangen rumah," tutupnya.

Setiap kampus di Malang memang memiliki kebijakan yang berbeda untuk memberikan apresiasi kepada para mahasiswanya yang mematuhi anjuran untuk tidak pulang kampung. Universitas Brawijaya contohnya, membagikan sembako setiap dua minggu sekali kepada puluhan mahasiswanya yang terbagi dalam tiga termin hingga 15 Mei mendatang.

Sementara di Universitas Negeri Malang (UM) pun tak jauh berbeda. Ratusan mahasiswanya diberi paket donasi dari pihak kampus secara bertahap. Paket yang diberikan berisi multivitamin, biskuit, masker, hand sanitizer, dan minuman sereal.

Hal serupa juga dilakukan Polinema, yang selain memberikan paket donasi, juga memberikan paket pulsa dan internet untuk sarana pendukung mahasiswa dalam menyelesaikan tugas.

RULLI SUPRAYUGO, PRO2 MALANG

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00