Ada Masjid di Kabupaten Malang Gunakan Energi Terbarukan, Ini Ceritanya

KBRN, Malang : Masjid KH Ahmad Dahlan di Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur telah menggunakan energi terbarukan untuk daya listrik yang dibutuhkan di masjid tersebut, yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atau Solar Cell. Lantas bagaimana cerita singkat masjid itu menggunakan energi terbarukan?

Masjid di kawasan Perumahan Griya Permata Alam berlantai tiga itu disebut sebagai satu-satunya masjid di Malang Raya yang menggunakan Solar Cell.

" PLTS itu dipasang sejak bulan Agustus tahun 2021 lalu, diinisiasi oleh salah satu warga setempat yang juga merupakan dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Novendra Setiawan," ungkap Ketua Takmir Masjid KH Ahmad Dahlan, Sugiyanto, Minggu (5/6/2022).

Menurutnya, memang PLTS yang dimiliki belum 100 persen memenuhi kebutuhan listrik masjid, namun tidak dengan PLTS ini diyakini bisa menghemat penggunaan listrik PLN sekitar 30 persen.

Ia menjelaskan di masjid itu telah memiliki 4 panel untuk mengkonversi tenaga surya menjadi listrik. Kata dia, masih membutuhkan sekitar 8 panel lagi agar mampu memenuhi 100 persen kebutuhan listrik masjid yang diperkirakan mencapai 3200 watt.

" Kalau 4 panel ini bisa menyuplai sekitar 800 watt kebutuhan listrik kami," bebernya.

Sehingga, lanjutnya, pihaknya menggunakan Solar Cell ini untuk kebutuhan listrik di siang hari, seperti azan dan kegiatan di Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ).

" Kalau malam kita tetap menggunakan PLN, karena kami menggunakan AC, jadi tidak kuat kalau pakai Solar Cell," tegasnya.

Sugiyanto menjelaskan empat panel itu dipasang di sekitar kubah utama masjid yang berada di atap lantai tiga. Panel itu diletakkan berjejer di atas penyangga alumunium dengan ukuran masing-masing panel sekitar 1,5 x 1 meter.

"Panel itu berfungsi untuk menyerap sinar matahari, kemudian dikirim ke dalam baterai yang berfungsi menyimpan daya listrik," tuturnya.

" Lalu energi listrik dialirkan ke sebuah alat bernama inverter yang berfungsi menghasilkan daya yang dapat dikonsumsi oleh beban-beban listrik yang ada, " sambungnya.

Menurutnya, dari inverter itu energi listrik DC dari panel-panel surya menjadi AC untuk menyuplai ke arah beban peralatan listrik.

" Selama satu tahun terpasang, instalasi solar cell itu tidak membutuhkan perawatan-perawatan berarti. Mungkin hanya butuh dibersihkan di area baterai, dan mengencangkan baut-baut apabila terlihat longgar," tukasnya.

Hanya saja lanjutnya, ketika sudah mencapai 2 tahun pemakaian, baterainya butuh perbaikan berkala. Perbaikan akan dilakukan oleh teknisi pabrikan atau pihak yang memasang perangkat tenaga surya itu, yakni tim dari UMM.

Ia menambahkan saat itu untuk memasang Solar Cell ini dibutuhkan biaya sekira Rp20 juta/4 panel.

"Jadi kalau butuh sekitar 8 panel lagi, kami butuh dana sekitar Rp40 juta lagi," kata Sugiyanto.

Namun, pemasangan Solar Cell di masjid KH Achmad Dahlan ini diperoleh secara gratis, karena pemasangannya atas dasar program yang dibawa oleh Novendra Setiawan.

"Jadi kampus dan dosennya ini mempunyai program pemberdayaan masyarakat berupa PLTS ini di Agustus 2021 lalu," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar