Waspada Erupsi Semeru, BPBD Kabupaten Malang Siagakan Sarpras

KBRN, Malang : Erupsi Gunung Semeru Lumajang yang menyebabkan pendakian ke Gunung Semeru ditutup Senin (30/11/2020), tidak berdampak bagi sejumlah Kecamatan di Kabupaten Malang yang berdekatan dengan Gunung tersebut, karena guguran lava pijar ke arah Timur Selatan. 

Kendati demikian, Pemkab Malang tetap siagakan sarana prasarana (Sarpras) penanganan bencana untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap wilayah terdampak erupsi Gunung Semeru.

" Erupsi Gunung Semeru saat ini belum ada kecamatan terdampak karena lava pijar arahnya ke Timur Selatan, arah Lumajang, tapi kami tetap siagakan peralatan penanganan bencana," ungkap Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang, Bambang Istiawan kepada RRI, Senin (30/11/2020).

Bambang mengaku telah koordinasi dengan pengamat Gunung Api terkait erupsi Gunung Semeru yang memiliki ketinggian 3676 mdpl itu.

" Kami dalam satu grup dengan pengamat Gunung Api dan selalu mendapat informasi saat kondisi gunung aktif," terangnya.

Kata Bambang, di Lereng Semeru ada Kecamatan Poncokusumo yang berdekatan dengan Ranupane, Lumajang. Namun, Kecamatan yang paling berdekatan dengan Lereng Semeru adalah Kecamatan Ampelgading.

" Material erupsi sekarang ini arahnya ke arah Timur Selatan, tidak ke Selatan Barat Kabupaten Malang," urainya.

Menurutnya, sejumlah wilayah di Kabupaten Malang akan terdampak apabila arah letusan material Gunung Semeru itu mengarah ke Selatan Barat. Sebab itu, pihaknya meningkatkan kewaspadaan untuk mengantisipasi kemungkinan hal hal yang tidak diinginkan. 

" Kami koordinasi dengan pengamat gunung untuk mengantisipasi dan peningkatan kewaspadaan. status sekarang masih Level II waspada," pungkas Bambang.

Informasi yang berhasil dihimpun RRI dari laporan yang disusun Mukdas Sofian, KESDM, Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Pos Pengamatan Gunung Api Semeru tercatat pada Magma-VAR (Volcanic Activity Report), laporan aktivitas Gunung Api Gunung Semeru pada periode pengamatan Sabtu (28/11/2020) lalu, secara visual Gunung Semeru terlihat jelas, kabut 0-II hingga kabut 0-III. 

Selain itu, asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis dan tinggi 50 m di atas puncak kawah. Saat itu terjadi satu kali gerimis sedang dan letusan teramati 3 kali dengan ketinggian asap kl 100 m berwarna asap putih tebal condong ke arah barat daya. Guguran dan lava pijar teramati 13 kali dengan jarak luncur kl 500-1000 m dari ujung lidah lava ke arah besuk kobokan yaitu ujung lidah lava kl 500 m dari puncak.

Sementara, dari sisi kegempaan, letusan terjadi sebanyak 7 kali dengan amplitudo 15-17 mm dengan durasi 65-120 detik. Juga guguran Lava terjadi sebanyak 41 kali dengan amplitudo 2-12 mm dengan durasi 45-140 detik. Untuk hembusan terjadi 10 kali dengan amplitudo 2-7 mm pada durasi 50-80 detik. Sedangkan untuk Tektonik Jauh 2 kali terjadi dengan amplitudo 8-26 mm, S-P 14-74 detik dengan durasi 50-150 detik.

Sehingga direkomendasikan bagi masyarakat agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 1 km dan wilayah sejauh 4 km di sektor lereng selatan-tenggara kawah aktif yang merupakan wilayah bukaan kawah aktif  Jonggring Saloko, Gunung Semeru sebagai alur luncuran awan panas. Juga diminta mewaspadai gugurnya kubah lava di Kawah Jonggring Saloko.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00