Keluh Kesah Pedagang Sayur Karangploso Malang di Tengah Covid-19

KBRN, Malang: Jam menunjukkan pukul 11.43 wib, suara ramai lelaki dan perempuan mewarnai situasi panas di pasar sayur Karangploso, Kabupaten Malang, Jumat (23/10/2020) siang. Sebagian orang yang hadir, ada yang memakai masker, ada pula melepasnya karena kondisi yang panas.

Puluhan orang terlihat berada di lokasi ini. Ada yang menggunakan kendaraan roda dua dan ada pula yang menggunakan kendaraan roda empat bak terbuka. Bahkan, terdengar suara kendaraan mundur untuk mencari tempat berhenti guna membongkar dan mengangkut sayur mayur di pasar tersebut.

Suasana panas terasa sangat kuat di pasar sayur Karangploso. Apalagi, silih berganti kendaraan roda empat keluar masuk membongkar dan memuat sayur mayur. Situasi itu diperparah dengan bagian atap pasar yang terbuat dari seng, sehingga terasa berada dalam ruang sauna. Ramai betul kondisi pasar sayur ini. 

Sayur mayur di pasar ini, ada yang berasal dari petani di wilayah Kabupaten Malang dan ada pula yang berasal dari petani di Kota Batu. Mulai jenis sayur kubis, wortel, andewi, seledri, hingga jenis sayur mayur lainnya. Sayur itu dipacking untuk dikirim ke berbagai daerah, paling banyak ke wilayah Surabaya, Jawa Timur. Mulai ke pasar Mangga Dua, Jagir Surabaya hingga ke pasar Keputran.

"Sayur sayur ini kami bawa ke Surabaya. Macam macam mas, ada wortel, andewi, kubis, dan beberapa jenis sayur lain diambil dari petani dan dikirim ke Keputran Surabaya," ungkap Pedagang Sayur Karangploso, Agus Harianto, Jumat (23/10/2020).

Namun, apakah pedagang di pasar sayur itu juga ramai pembeli di tengah pandemi Covid-19 sekarang? Agus menyebut selama pandemi Covid -19, rata rata dalam sehari hanya mampu mengirim 2,7 ton dengan harga yang tidak stabil, sebab permintaan sayur di Surabaya tidak seperti sebelum pandemi.

" Kondisi pandemi ini permintaan pengaruh banget. Biasanya saya pakai dua kendaraan, sekarang hanya satu kendaraan, setiap kendaraan maksimal bermuatan 2,7 ton beragam jenis sayur," terangnya.

Ia menduga, permintaan sayur di Surabaya turun akibat masyarakat takut datang ke pasar, pertama karena takut virus corona dan kedua takut dirasia. Imbasnya, pendapatan pedagang sayur mayur di pasar Karangploso turun signifikan.

" Pembeli di Surabaya takut. Kami berharap Pemerintah segera mengatasi Covid-19 ini agar kondisi baik seperti semula," harap Agus.

Terpisah, pedagang sayur sawi putih, Nur Santi mengatakan hal yang sama. Kiriman sayur ke luar daerah berkurang. Kondisi diperparah dengan harga sayur yang tidak stabil. Bahkan, Santi mengaku kerapkali merugi dalam berdagang sayur selama pandemi ini.

" Harga tidak bisa stabil, bekerja susah, petani dan pedagang susah sering rugi selama covid ini," tukas Santi.

Kerugian berdagang sayur selama pandemi mencapai 50 persen. Kondisi itu terjadi, saat membeli sayur di petani dengan harga mahal dan di pasaran terjual murah. 

Hal serupa juga disampaikan pedagang sayur asal kecamatan Beji, Kota Batu, Abdul Syukur. Menurutnya, pendapatan pedagang sayur turun hampir 50 persen, sebab pengiriman sayur ke luar daerah berkurang separuh. Itupun, seringkali barang dagangan yang dibawa mengalami kerusakan akibat cuaca.

" Sekarang ini sayuran banyak yang rusak. Permintaan sepi, biasanya banyak sekarang separuh saja mas," kata Syukur.

Ia menyebut, biasanya dalam sehari mampu mengirim 3 ton sayur mayur ke Surabaya, tetapi kini hanya 1,5 ton. Harga sayur sendiri saat ini naik turun, mengikuti pasar.

Ia mencontohkan, harga sayur jenis sawi putih sebelumnya Rp 2500/Kg, saat ini hanya Rp 2300/Kg. Sementara harga sayur kubis yang sebelumnya Rp 1300/Kg, kini naik menjadi Rp 1800/Kg. Sedangkan harga wortel tetap kisaran Rp 2500-3000/Kg.

" Yang bagus sekarang ini harga sayur andewi mencapai Rp 7000/Kg, sebelumnya hanya Rp 3000/Kg," urainya.

Syukur menjelaskan, sepinya permintaan sayur itu akibat pelanggan yang ada di Surabaya tidak lagi datang ke pasar, juga banyak hotel tutup dan pelanggan menghilang. 

Disinggung soal ancaman sebaran Covid-19 di kluster pasar? Syukur mengaku lebih takut kelaparan, ketimbang virus tersebut, sebab diriny memiliki tanggungjawab besar menghidupi keluarganya. Baik untuk biaya hiduo sehari hari, maupun untuk biaya sekolah anaknya.

" Saya tidak takut pada covid-19, laj tanggubgjawab ke keluarga saya gimana. Kemaren saja anak saya minta  uang Rp 4 juta untuk bayar ujian,"  jelasnya.

Harapan Syukur kepada pemerintah agar segera  bisa mengatasi Covid-19 sehingga kondisi bisa kembali normal.

Keluh kesah Syukur sama halnya dengan keluh kesah pedagang sayur lain di pasar Karangploso, yaitu permintaan sayur mayur turun hingga 50 persen dan harga tidak stabil, imbas pandemi Covid-19.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00