Waspadai ‘Second Wave’ Wabah Covid-19

Rumah Sakit Saiful Anwar, salah satu RS rujukan penanganan Covid-19 di Malang

KBRN, Malang: Jumlah pasien positif maupun pasien dalam pantauan (PDP) Covid-19 di Malang terus bertambah. Ironisnya, suasana jalanan dan fasilitas publik Kota Malang terpantau ramai. Imbauan pemerintah untuk tetap di rumah saja maupun social distancing belum sepenuhnya dilakukan warga. Sementara wabah Covid-19 belum ada obatnya, dan entah kapan pandemi ini berakhir. Masyarakat pun diharapkan mewaspadai ‘second wave’ wabah ini.

Ketua Tim Satgas Covid-19 Universitas Brawijaya (UB) Malang, dr. Aurick Yuda Nagara mengatakan, saat ini Jawa Timur menempati ranking 3 di Indonesia daam temuan warga positif Covid-19. “Sementara rasio kematiannya 10 persen , ini masih sangat tinggi. Jadi wabah ini masih harus diwaspadai,” katanya, Rabu (6/5/2020).

Berbagai bentuk kegiatan sosial melalui donasi baik APD maupun bantuan lainnya terus mengalir. Namun bantuan ini tak selamanya bisa dikucurkan. “Misalnya sudah tidak ada donasi, bagaimana nasib warga. Temuan pertama kali orang posirif Covid-19 pada Maret lalu, jumlahnya terus naik hingga sekarang. Bisa jadi gelombang kedua puncak pandemi pada awal Mei ini,” ujarnya.

Pihaknya pun mengingatkan masyarakat agar menyiapkan diri menghadapi second wave wabah ini. Apalagi di pertengahan tahun terdapat gelombang mahasiswa baru di Malang. “Bagaimana 

mengurangi resikonya, harus jelas siapa yang harus diisolasi,“ tutur dia. 

Ia mendukung agar kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di wilayah Malang Raya segera diterapkan. Sempat ditolak, kini Pemda Malang Raya kembali mengajukan PSBB. “Sebulan lalu Kota Malang ditolak PSBB karena jumlah pasiena positif bertahan di angka 8 orang. Sekarang 

 terbukti 18 Kota Malang saja naik menjadi 18 orang,” ungkapnya.     

Suasana Kota Malang sempat lengang ketika awal pandemi ini masuk ke Indonesia. Namun begitu ada warga yang dinyatakan sembuh, masyarakat kembali beraktivitas seperti biasa. “Seandainya aturan sedikit dilonggarkan, maka jumlahnya  akan meningkat kembali. Sempat ada anggapan bahwa masyarakat harus disenangkan dengan begitu kesembuhan pasien, kalau senang imun tubuh meningkat. Tetapi anggapan ini ternyata tidak selamanya benar. Kalau kontrol sosial distancing lemah, maka akan ada second wave,“ kata dia.

Selain itu, second wave atau puncak wabah ini juga disinyalir disebabkan beberapa faktor. Yakni masih belum adanya data pola imunitas survivor, siapa saja komunitas resiko rentan, dan kontrol social distancing yang melemah.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00