Penelitian FISIP UB: Mahasiswa Anggap Penegakan Hukum Masih Amburadul

(Foto : Istimewa)

KBRN, Malang : Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) di seluruh Indonesia beranggapan bahwa penegakan hukum di Indonesia selama 10 tahun masih amburadul. Hal itu berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Program Studi Ilmu Politik Universitas Brawijaya, yakni dua dosen Faishal Aminuddin dan M Fajar S Ramadlan.

Muhammad Fajar, salah seorang tim peneliti mengatakan, pihaknya melakukan penelitian ke mahasiswa FISIP seluruh Indonesia mulai Agustus hingga akhir September dengan jumlah sampel yang sebanyak 497 mahasiswa.

“Dari hasil penelitian, mahasiswa menilai selama 10 tahun terakhir tidak banyak perbaikan dalam kehidupan sosial, ekonomi (43%), stabilitas keamanan (49%), harmoni dan kerukunan (49%), serta kehidupan politik yang demokratis(47%),” ungkapnya, Rabu (8/12/2021).

Menurutnya, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa berada dalam sikap yang sangat setuju terhadap kesetaraan di depan hukum (79.3%), kebebasan beragama dan berkeyakinan (82,1%). Kemudian perlindungan negara terhadap warga negara terhadap agama dan kepercayaan (75,9%), berhak menentukan agama kepercayaan bahkan tidak beragama (51,9%), perlindungan negara terhadap kebebasan berbicara, beroroganisasi dan berpendapat (72,8%), kebijakan publikyang harus diambil secara demokratis (70%) serta pembatasan terhadap keistimewaan pejabat (57,5%). 

“Mahasiswa juga menyatakan sikap kurang setuju pada isu-isuyang berkenaan dengan pengendalian bisnis dan korporasiterhadap pengendalian negara (43,3%), orietnasi keagamaanyang mencampuri urusan publik (39%), serta pemisahanantara negara dan agama (30,8%),” kata Fajar.

Sementara pada kinerja sektor keuangan, sebanyak 52% mahasiswa menilai baik, kinerja pemerintah pusat 43% menilai baik, tetapi 41% menilai kurang baik. Sedangkan pemerintah daerah 46% menilai baik dan 41% menilai kurang baik. 

“Adapun kinerja legislatif, yakni DPR RI 54% menilai kurangbaik, DPRD Provinsi dan Kabupaten Kota, 48% dinilaikurang baik. Termasuk partai politik dinilai kurang berkinerja baik (50%),” kata dia.

Sedangkan pada sektor institusi penegakan hukum, kinerja kepolisian 40% menilai baik, dan 36% menilaikurang baik. Pada kinerja kejaksanaan, 44% menilai baik dan 40% menilai kurang baik. Adapun kinerja kehakiman 45% menilai kurang baik, dan 39% menilai baik. 

“Mahasiswa menilai, sektor yang perlu mendapat perbaikan adalah sektor pembuatan kebijakan (27%), kemudian sektor keuangan (20%), sektor sosial 19%, sektor keamanan 14%, sektor pertahanan 11% dan hanya sektor keagamaan 9%,” ujarnya.

Omnibus law, revisi UU KUHP menurut Fajar menjadi isu utama gerakan mahasiswa selama kurang lebih 2 tahun terakhir. Hal inilah yang menjadikan sektor pembuatan kebijakan adalah sektor yang paling bermasalah. 

Sementara itu, pembahas hasil penelitian ini Panji A Permana menyampaikan bahwa dalam keterlibatan pada politik elektoral, masih kuatnya sentimen anti partai dan anti politik praktis. Sekalipun dalam politik praktis mahasiswa masih memberi penialaian akan pentingnya isu-isu citizenship. 

Panji menilai, gerakan mahasiswa pasca reformasi memilikijiwa zaman (zeitgeist) yang berbeda dibandingkan dengan gerakan mahasiswa di masa lalu (98, 80an dan 65). 

“Gerakan mahasiswa pasca reformasi berhadapan denganbeberapa tantangan, seperti ketiadaan musuh bersama, menurunnya derajat warisan dari gerakan mahasiswa sebelumnya, mencari model partisipasi politik dalam rezimdemokratis, berhadapan dengan wajah otoritarianisme yang tidak lagi hanya bersumber dari negara, melainkan juga dari masyarakat, elit, pemilik modal/oligarki, dan sebagainya,” jelasnya.

“Selain itu, tantangan gerakan mahasiswa juga hadirdari tekanan sistem perkuliahan, serta diversivikasi ruang publik melalui media sosial yang menjadikan arena publik dan sosial influencer yang tidak lagi terkonsentrasi,” imbuhnya. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar