Kasus Mahasiswi Bunuh Diri, Begini Tanggapan Pihak UB

KBRN, Malang : Kasus seorang mahasiswi berinisial NWR yang melakukan bunuh diri di samping makam ayahnya di Dusun Sugihan Desa japan Kecamatan Sook Mojokerto pada Kamis (2/12/2021) lalu menjadi puncak trending di berbagai platform media sosial. Mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) ini bunuh diri dengan meminum racun. Ia depresi lantaran mengalami kekerasan seksual hingga hamil dan diminta untuk melakukan aborsi oleh kekasihnya yang merupakan salah seorang anggota Polres Pasuruan, Bripda RB.

Menanggapi hal tersebut, pihak kampus UB pun angkat bicara. Dekan Fakultas Ilmu Budaya UB, Prof. Agus Suman, SE., DEA., menyampaikan duka cita yang mendalam atas berpulangnya mahasiswi atas nama NWR tersebut.

"Kami juga mengapresiasi dan mendukung langkah cepat yang dilakukan oleh Polri dalam menangani kasus meninggalnya NWR dalam kaitannya dengan hubungan pribadi yang bersangkutan dengan oknum anggota Polri berinisial RB," ungkap Prof. Agus, Minggu (5/12/2021).

Pihaknya pun mengajak seluruh masyarakat untuk menghormati hak-hak pribadi keluarga korban, dengan cara memberi informasi yang bijak agar tidak menimbulkan kegaduhan.

"Terkait kasus ini, kami imbau setiap civitas akademika UB dapat menjaga dan menjunjung tinggi nama baik UB di masyarakat dengan menegakkan hukum dan atau di etika masyarakat. Dalam hal ini, UB tetap konsisten dan berkomitmen melakukan segala upaya untuk mencegah dan menangani setiap tindakan yang dikualifikasikan sebagai kekerasan seksual dan perundungan di lingkungan UB berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku," katanya.

Mencuatnya kasus ini pun sempat dihubungkan dengan kasus kekerasan seksual yang menimpa NWR di lingkungan kampus FIB UB pada 2017 silam. Prof. Agus pun menegaskan jika meninggalnya NWR tak ada hubungannya dengan kasus itu. Meskipun itu tak menampik informasi jika sebelumnya korban juga pernah mengalami kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus dengan pelakunya merupakan kakak tingkat korban di FIB. 

"Kasus yang dulu itu tidak ada hubungannya dengan yang sekarang. Dulu pelakunya merupakan kakak tingkat NWR dengan inisial RAW," ujarnya.

Ia menjelaskan, NWR merupakan mahasiswi FIB angkatan 2016. Pada awal Januari 2020, ia melaporkan kasus pelecehan seksual yang pernah dialaminya kepada fungsionaris FIB UB. Pelaku merupakan kakak tingkat NWR yang juga mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FIB UB dengan inisial RAW.

"Setelah adanya laporan NRW, maka kami langsung menindaklanjuti dengan membentuk komisi etik untuk menangani kasus tersebut. Setelah dilakukan pemeriksaan terhadap RAW, dan terbukti bersalah, pihak UB memberi sanksi dan pembinaan pada RAW, serta pendampingan pada NWR dengan pemberiaan konseling sesuai aturan berlaku," tandasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar