Kota Malang Satu-satunya Deflasi di Jatim Selama Februari 2021

KBRN, Malang: Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang mencatatkan kota pendidikan mengalami deflasi tipis sebesar -0,01 persen selama bulan Februari 2021. Dalam hal ini, Kota Malang menjadi satu-satunya daerah di Jawa Timur yang tercatat mengalami deflasi. Sementara angka inflasi Jatim tercatat sebesar 0,22 persen, dan inflasi nasional sebesar 0,10 persen.

Kepala BPS Kota Malang, Sunaryo menjelaskan, angka deflasi Kota Malang tertinggi disebabkan oleh faktor penurunan tarif di sektor transportasi, yakni penurunan tarif angkutan udara dan kereta api. “Berdasarkan kelompok pengeluaran, transportasi memiliki andil -0,72 persen terhadap deflasi Kota Malang. Kemudian disusul dengan andil sektor makanan, minuman, dan tembakau akibat penurunan harga daging ayam) dengan andil terhadap deflasi -0,01 persen,” kata Sunaryo, Senin (01/3/2021).

Sedangkan untuk kelompok pengeluaran lainnya, memiliki andi terhadap inflasi lantaran mengalami kenaikan harga. Yakni kelompok pengeluaran perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rumah tangga dengan andil 0,50 persen, penyedia makanan  minuman dan restoran dengan andil 0,25 persen.

“Untuk kelompok pengeluaran rekreasi, olahraga dan budaya punya andil inflasi 0,15 persen akibat ke kenaikan harga sepeda anak, sementara kelompok pakaian dan alas kaki memilki andil 0,11 persen, serta kelompok pengeluaran lainnya,” paparnya.

Sejumlah komoditas yang menjadi penyumbang deflasi Kota Malang pada Februari 2021 meliputi penurunan tarif angkutan udara sebesar 6,294 persen, penurunan harga daging ayam ras 2,07 persen, penurunan harga tahu mentah 4,06 persen, harga jeruk turun 5,6 persen, penurunan tarif kereta api 7,67 persen, dan penurunan harga emas perhiasan sebesar 1,3 persen. “Komoditas lainnya penyumbang deflasi adalah penurunan harga kelapa, ayam hidup, daging sapi, dan tomat,” tutur Sunaryo.

Sementara untuk komoditas penghambat deflasi atau penyumbang inflasi meliputi kenaikan harga cabai rawit sebesar 7,44 persen, kenaikan upah tukang bukan mandor sebesar 1,94 persen, kenaikan harga cabai merah 13,44 persen, naiknya harga pepaya sebesar 6,93 persen, kenaikan harga mobil 6,5 persen. “Lima komoditas lainnya penyumbang inflasi akibat kenaikan harga jagung manis, pengharum atau pelembut cucian, melon, upah asisten rumah tangga, dan kentang,” ujarnya.

Ditanya soal keterkaitan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Kota Malang dengan pola konsumsi masyarakat, BPS masih belum bisa memberikan penjelasan pasti. Sebab, BPS masih belum melakukan survei biaya hidup untuk mengukur pola konsumsi masyarakat. “Jika dilihat soal mobilitas masyarakat di bulan Februari memang sedikit lebih tinggi dibandingkan Januari, karena situasi pandemi. Tetapi untuk mengetahui tingkat konsumsi harus melalui survei,” tandasnya. 

Untuk diketahui, inflasi tertinggi di wilayah Jatim ditempati oleh Kota Surabaya sebesar 0,29 persen. Sedangkan inflasi terendah oleh Sumenep sebesar 0,02 persen. Untuk kota lain di Jatim yakni Kota Probolinggo 0,05 persen, Banyuwangi 0,09 persen, Jember 0,12 persen, Kediri 0,07 persen, dan Madiun 0,08 persen. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00