Produksi Susu Sapi di Malang Barat Anjlok, Tersisa 70 Ton/Hari

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Malang saat melihat kondisi ternak di Malang Barat. (Foto: Istimewa).

KBRN, Malang : Produksi susu sapi di wilayah Malang Barat, yaitu Kecamatan Pujon, Ngantang dan Kasembon turun signifikan, hingga 40 ton/hari. Bahkan, kini tersisa 70 ton/hari. Padahal, awalnya produksi susu sapi di wilayah itu mencapai 117 ton/hari, imbas wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). 

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Malang, Sodikul Amin mengatakan produktifitas susu di Malang Barat semakin hari semakin menurun, 85 persen pendapatan masyarakat dari produksi susu sapi itu. 

"Kalau datanya, di Pujon saja itu diprediksi ada sebanyak 5.500 ternak yang terindikasi PMK. Potensi itu nampak dari produktifitas susunya yang turun. Jadi yang awalnya 117 ton perhari, saat ini hanya tinggal 70 ton perharinya. Jadi sekarang sudah ada penurunan produktifitas susu sebanyak 40 ton lebih perhari," terang Sodikul Amin, Selasa (14/6/2022). 

Ia berasumsi pada 1 ekor sapi bisa menghasilkan susu sebanyak 10 liter. Sebab itu perhari turun sekitar 40 ton susu, maka diperkirakan ada banyak ekor sapi yang tidak produktif.

"Itu kalau sesuai dengan nilai produktifitas. Lalu itu tadi di Ngantang, oleh KUD Sumber Makmur sudah disampaikan bahwa saat ini sudah di atas, 5.000 (ekor), di Kasembon sekitar 1.500. Sehingga estimasi kita yang dipastikan terjangkit ditambah ternak yang sudah menunjukan gejala klinis, sudah di angka sepuluh ribu," kata Politisi Partai NasDem tersebut. 

Ia meminta kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang segera menyajikan data secara lebih kongkret, tidak hanya sapi, namun juga ternak lain yang dinilai berpotensi tertular wabah PMK.

Sementara, Koperasi Andadani Ekonomi (SAE) Pujon mendata produktifitas susu menurun hingga 40 persen. Atau produksi susu hanya menghasilkan 40 hingga 50 ton perhari, itu akibat banyaknya sapi perah di Pujon yang mati akibat PMK.

"Kematian sapi perah penyebab utamanya untuk sementara ini akibat tertular PMK," urai Humas Koperasi SAE Pujon, Suyono. 

Ia mencatat, populasi sapi perah di Pujon yang tercatat sebagai anggota Koperasi SAE ada sebanyak 18 ribu ekor. Namun, semenjak wabah PMK ini menyerang, populasi sapi perah di Pujon turut anjlok.

Sebab itu, ia juga meminta kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang agar memikirkan kondisi peternak yang kehilangan ternaknya, karena satu ekor sapi yang sudah bisa menghasilkan susu, harganya bisa mencapai Rp 50 juta. Sementara, sekarang banyak sapi perah yang mati, sehingga sangat memukul peternak sapi perah.

"Jika peternak memiliki 5 ekor sapi perah lalu mati, maka akan mengalami kerugian ratusan juta rupiah. Sehingga untuk meringankan peternak yang mengalami kerugian tersebut, maka diharapkan pemerintah memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) seperti kasus Covid-19, pungkas Suyono

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar