Kesulitan Bahan Baku Alami, Perajin Rotan di Malang Hentikan Ekspor

Misriwati Agustina, salah seorang perajin rotan asal Kota Malang

KBRN, Malang : Kerajinan rotan menjadi salah satu produk unggulan yang dihasilkan UMKM di Kota Malang. Salah satunya kerajinan rotan produksi Misriwati Agustina (56). Perajin rotan melalui produknya bernama Dona Doni Rattan Gallery ini tak hanya memasarkan produknya di dalam negeri, namun sejak 2003 produknya juga diminati di luar negeri hingga Jepang, Singapura, Amerika Serikat, dan Abu Dhabi.

Namun sejak 2015 lalu ia mulai menghentikan ekspor   ke negara-negara tersebut lantaran kesulitan mendapatkan bahan baku rotan alami. Pasalnya, konsumen luar negeri mayoritas menyukai kerajinan tangan berbahan dasar alami lantaran dianggap ramah lingkungan ketimbang berbahan dasar sintetis.

“Dulu saya banyak menjual produk berbahan alami dari rotan, pelepah pisang, dan eceng gondok. Tetapi sejak 2015 kesulitan cari bahan alami itu, sehingga tetap mencoba bertahan dengan mengembangkan kerajinan tangan berbahan dasar rotan sintetis. Kalau yang sintetis ini laku dijual di Indonesia, meski saat ini kami juga mencari negara mana yang berminat dengan rotan sintetis,” kata Misriwati, Senin (23/5/2022).

Menurutnya, bahan alami saat ini susah didapatkan dan dibudidayakan. Eceng gondok dan pelepah pisang misalnya, sulit didapatkan sehingga harganya lebih mahal.

“Untuk produk alami biasanya sekali pakai diminati konsumen di Amerika Serikat dan Jepang. Sejak tidak ada bahan alami ini ekspor ikut terhenti,” ujarnya.

Selama ini, Misriwati menghasilkan produk kerajinan rotan sintetis seperti keranjang buah, tempat sampah, tempat payung, tudung saji, tempat air minum, lampu hiasa, kursi, vas bunga, dan produk lainnya. Harganya dibanderol mulai belasan hingga ratusan ribu rupiah. 

“Meski tidak alami, rotan sintesis ini punya beberapa keunggulan seperti bahannya mudah dibersihkan, awet, multifungsi, dan harganya terjangkau dibandingkan bahan serat alami,” tuturnya. 

Selama masa pandemi dua tahun terakhir, Misriwati mengakui ada penurunan omset. Namun pemasaran secara online tetap gencar dilakukan. Meski bahan baku naik, namun ia lebih memilih mengurangi keuntungan agar konsumen tetap bertahan. Selama ini, Misriwati dibantu 10 karyawan tetap untuk memproduksi kerajinan rotan sintesis. 

“Kita juga berusaha melakukn inovasi desain-desain produk sesuai permintaan pasar, misal vas bunga yang bentuknya kekinian,” tandasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar