Peneliti PPKE FEB UB Kritisi Kebijakan Minyak Goreng Satu Harga

Dialog Lintas malang Pagi RRI Malang, Senin (24/1/2022)

KBRN, Malang: Perilaku konsumen yang melakukan aksi panic buying setelah pemerintah menetapkan harga minyak goreng menjadi Rp 14 ribu per liter mulai 19 Januari 2022, justru dapat berdampak pada kenaikan harga yang bertahan lebih lama.

“Kalau masyarakat panik, membeli lebih dari kebutuhan bahkan menimbun, justru dapat mengganggu stok dan membuat harga naik,” jelas peneliti dari Pusat Penelitian Kebijakan Ekonomi (PPKE) Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Brawijaya, Dwi Ardy Sugiono, SE., ME., dalam dialog di RRI Malang, Senin (24/1/2022).

Untuk meredam panic buying, pemerintah daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dapat melakukan operasi pasar terbuka, melakukan pengawasan implementasi kebijakan minyak goreng satu harga, dan yang sangat penting adalah memberi informasi kepada masyarakat bahwa stok minyak goreng aman agar tidak panik.

“Perlu informasi dan edukasi masif dan meyakinkan bahwa stok minyak goreng aman dan cukup, harganya juga jelas agar tidak ada panic buying. Ini penting karena pola konsumsi masyarakat kita pada minyak goreng tinggi,” kata Ardy.

Yang perlu dilakukan di daerah, menurut Ardy adalah penegakan pengawasan dan implementasi pemberlakuan satu harga di ritel dan pasar/ toko rakyat, mencegah penimbunan minyak goreng oleh distributor, pedagang besar maupun pelaku usaha lainnya, dan tata niaga minyak goreng.

“Perlu kerjasama pemerintah Pusat, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dan lembaga terkait untuk memperbaiki struktur pasar atau tata niaga minyak goreng di Indonesia. 46,5 persen peredaran minyak goreng kita hanya dikuasai oleh 4 produsen besar, yang dapat berdampak pada pengendalian harga minyak goreng melalui supply minyak goreng di pasar,” tegas Ardy.

Menurutnya produksi minyak goreng yang berbahan baku sawit (Crude Palm Oil/CPO)perlu dicarikan substitusi agar ketergangtungan terhadap CPO dapat dikurangi. Karena kenaikan harga CPO di pasar internasional berpengaruh pada stock dan harga produksi minyak goreng dalam negeri.

“Nah, salah satu yang berpengaruh besar adalah, mengubah pola konsumsi dan pola hidup sehat masyarakat. Mengurangi makan goreng-gorengan, supaya ketergantungan pada minyak goreng dapat dikurangi,” pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar