JFX Ajak Wartawan Perkuat Literasi dan Akselerasi Perdagangan Berjangka

Direktur Utama Jakarta Futures Exchange (JFX), Stephanus Paulus Lumintang dalam Pembukaan UKW di PWI Malang Raya, Jumat (3/12/2021)

KBRN, Malang: Meskipun di pasar global perdagangan berjangka sudah dikenal dan berpotensi besar, namun masih menjadi hal yang unik dan asing bagi masyarakat di Indonesia, termasuk bagi kalangan jurnalis. 

“Media perlu lebih mencermati perdagangan berjangka, karena kita punya banyak komoditi penting yang berpotensi tapi masih belum dikenal,” kata Direktur Utama Jakarta Futures Exchange (JFX) atau Bursa Berjangka Jakarta, Stephanus Paulus Lumintang dalam Pembukaan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI Jatim Angkatan 37 dan 38, yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Malang Raya di Hotel Savana Malang, Jumat (3/12/2021).

Untuk itu menurutnya perlu ada edukasi literasi di kalangan jurnalis agar dapat menyampaikan informasi mengenai perdagangan berjangka di Indonesia, salah satunya melalui sosialisasi dalam  pembukaan UKW PWI Jatim tersebut.

Namun demikian, ia mengapresisasi para jurnalis di Malang Raya yang sudah secara kontinyu meningkatkan literasi mengenai perdagangan berjangka komoditi melalui media pers masing-masing.

Saat ini pihaknya sedang mengedukasi dan meningkatkan sosialisasi dan mengakselerasi  perdagangan berjangka agar tidak dipandang sebelah mata.  

“Kita tidak mau dipandang sebelah mata. JFX memang tidak dikenal di negeri sendiri. Namun JFX sangat dilirik perusahaan asing dari Uni Emirat Arab, Dubai, China, Eropa maupun Amerika ingin memiliki JFX. Namun sampai saat ini kami masih menutup diri hanya untuk merah putih, Indonesia saja,” jelasnya.

Di Indonesia, ia menambahkan, tren ke depan diproyeksikan volume perdagangan berjangka komoditi bisa naik signifikan jika size ekonomi nasional semakin besar dan masyarakat semakin teredukasi.

Bukti bahwa perdagangan berjangka komoditi Indonesia prospektif, kata Stephanus, sudah banyak calon investor asal luar negeri dari negara-negara maju yang berminat dan menjajaki untuk berinvestasi dalam pengelolaan  Bursa Berjangka Jakarta.

Stephanus menambahkan, jurnalis di Malang Raya memiliki peran strategis untuk mengenalkan produk berjangka komoditi agar lebih diperhitungkan. 

Berkaca pada negara-negara maju, seperti di Amerika Serikat, size atau volume perdagangan berjangka di sana jauh lebih besar. Volume perdagangan berjangka di Amerika Serikat empat kali lebih besar daripada perdagangan saham. Sedangkan di Indonesia sedang dilakukan edukasi agar JFX dapat terus tumbuh lebih besar.

Dalam kesempatan yang sama pria yang merupakan kandidat Doktor di Universitas Brawijaya ini mengingatkan para jurnalis dan seluruh masyarakat bahwa  investasi selalu beresiko, tetapi dapat memilih investasi yang aman, salah satunya dengan dengan investasi di Bursa Berjangka yang dapat menjadi sarana untuk melindungi nilai (hedging) yang efektif dari pengaruh timbulnya resiko karena fluktuasi harga.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar