Pjs Walikota Pasuruan Sebut Beragam Kendala Belajar-Mengajar melalui Daring

KBRN, Malang : Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) bagi siswa dengan sistem Dalam jaringan (Daring) selama pandemi Covid-19 di Kota Pasuruan masih berlangsung hingga sekarang, untuk memutus sebaran virus corona.

Pjs Walikota Pasuruan, Dr Ardo Sahak menjelaskan sejak terjadinya pandemi Covid-19 pada bulan Maret lalu, pemerintah membuat kebijakan meliburkan KBM tatap muka bagi siswa untuk mencegah penyebaran Covid-19. 

" Tidak hanya untuk anak sekolah, pegawai kantor juga menerapkan bekerja dari rumah  saat itu. Artinya dampak covid-19 ini sangat luar biasa," ungkap Ardo Sahak, usai rapat secara virtual dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kamis (19/11/2020).

Sehingga para siswa melakukan belajar dari rumah dengan sistem Daring, terhitung sejak bulan Maret 2020 hingga saat ini. Tercatat sekitar hampir 9 bulan.

" Di awal anak-anak senang belajar di rumah dengan daring karena seperti libur. Tetapi lama-kelamaan terjadi kejenuhan dan ada ketidaknyamanan dari siswa sendiri terkait dengan belajar daring," terangnya.

Ardo Sahak menyebut, ada beragam kendala selama pembelajaran dengan sistem daring dilakukan, antara lain kultur belajar siswa ketika belajar di kelas akan ada gairah yang muncul dari siswa karena melakukan pembelajaran bersama dengan siswa lainnya.

" Berbeda dengan ketika melakukan pembelajaran secara mandiri. Inilah yang menjadi keluhan orang tua dan siswa," bebernya.

Selain itu, kata Ardo Sahak, bagi orang tua yang bekerja biasanya bisa berangkat kerja pada pagi hari. Namun, selama daring sekarang harus menunda, sebab harus menemani anak belajar. Apalagi terhadap mata pelajaran yang tidak dikuasai oleh orang tua siswa, maka membuat orang tua menjadi stres. 

" Persoalan berikutnya terkait dengan infrastruktur internet di daerah-daerah yang susah internet, termasuk ketersediaan kuota," urainya.

Sebab itu, para orang tua setuju pembelajaran dilakukan secara tatap muka lagi, karena dinilai banyak kendala ketika siswa belajar mandiri di rumah. Termasuk ketika ada kesulitan siswa didik tidak tahu harus bertanya kemana.

" Tetapi jika pembelajaran ini dilakukan secara tatap muka, pertanyaan nya apakah Covid-19 ini sudah selesai? Jadi ada kontradiktif. Satu sisi kita ingin pembelajaran tatap muka. Di sisi lain kita tahu Covid-19 masih ada," tegasnya.

Ardo Sahak mengaku telah berdiskusi dengan Tim Gugus Tugas dan mendapat informasi kasus covid-19 sudah mulai agak melandai.  Kendati demikian, pihaknya masih belum meyakini covid-19 telah selesai, sebelum adanya vaksin. 

" Mungkin kasus melandai karena masyarakat telah disiplin menerapkan protokol kesehatan," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00