Kisah Kompol Sutiono, Polisi di Malang Bantu Pemakaman Puluhan Jenazah Covid-19

Tim relawan melakukan proses pemakaman jenazah pasien Covid-19 di Kota Malang
Kompol Sutiono

KBRN, Malang:  Wabah Covid-19 telah merenggut puluhan nyawa di Kota Malang. Namun tidak semua warga memiliki keberanian dan tekad untuk marawat jenazah meninggal yang telah terkonfimasi positif Covid-19 maupun pasien dalam pengawasan (PDP). Ketakurtan tertular virus menjadi salah satu penyebab ketakutan warga. Namun hal itu tidak berlaku bagi Kompol Sutiono, salah seorang personil kepolisian yang bertugas di Polresta Malang Kota.

Pria yang kini menjabat sebagai Kasat Intelkam Polresta Malang Kota ini menjadi salah satu relawan yang siap membantu pemakaman warga di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini. Bersama sejumlah relawan, Kompol Sutiono siap dipanggil untuk membantu pemulasaran jenazah mulai dari evakuasi jenazah, memandikan jenazah, mensholati jenazah, hingga menguburkan jenazah. 

Bagi Kompol Sutiono, selain kewajiban sebagai polisi, panggilan jiwa sosial menjadi alasannya untuk menjalankan tugas pemulasaran jenazah. "Awalnya sekitar awal Maret saya dimintai tolong untuk memindahkan orang sakit dari rumah sakit. Ada juga warga yang meninggal tetapi tidak ada yang berani menangani. Saya kasihan, warga itu juga butuh penghormatan setelah meninggal, jadi saya dan beberapa tim relawan membantu dengan membeli APD sendiri yang saat itu masih sangat mahal," katanya kepada RRI, Selasa (7/7/2020).

Sejak awal pandemi hingga kini, Kompol Sutiono dan tim relawan lainnya telah melakukan pemulasaran lebih dari 50 jenazah. "Ada yang meninggal di rumah sakit, ada yang meninggal di rumah, tetapi keluarga tidak berani memandikan hingga proses pemakaman. Sehingga kami dan teman-teman relawan dikontak melaksanakan pemulasaran jenazah tentunya tetap sesuai dengan protokol kesehatan pencegahan covid-19," ujar Kompol Sutiono. 

Saat melakukan perawatan jenazah, ia menggunakan alat pelindung diri lengkap mulai dari masker, pelindung mata, pelindung wajah, pakaian medis, sarung tangan medis, hingga sepatu pelindung. "Kami juga harus berhati-hati agar tidak tertular. Selain perlindungan diri, sebelum dimandikan jenazah juga disemprot cairan disinfektan terlebih dahulu, lalu didiamkan 10 menit. Setelah itu baru dimandikan seperti biasa dengan air yang juga dicampur larutan disinfektan," ungkap pria asli Malang ini.

"Setelah bersih, jenazah dibungkus plastik, dikafani, lalu dibungkus plastik lagi. Ketika dibawa dengan ambulan, jenazah dimasukkan lagi ke kantong jenazah," imbuhnya. 

Untuk satu orang jenazah, tim relawan membutuhkan waktu sekitar 4 jam. Dalam sehari, Sutiono dan tim relawan bisa melakukan proses pemakan hingga 5 jenazah. Itu artinya, tim ini bisa seharian penuh melakukan pemulasaran jenazah. "Terkadang butuh waktu lama untuk penggaliannya dan penguburam, karena jenazah harus betul-betul rapat," tuturnya.

Selain membantu pemulasaran jenazah, ia juga membantu memberikan edukasi pada masyarakat di kampung-kampung. Edukasi ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan pada masyarakat bagaimana melakukan proses pemulasaraan jenazah yang terinfeksi Covid-19 dengan benar. "Sebenarnya tidak hanya Covid-19, setiap jenazah yang punya penyakit menular lainnya seperti TBC juga harus diwaspadai. Masyarakat juga sudah diedukasi mengenai jenazah yang sudah masuk peti tidak akan menularkan virus karena sudah dilapisi plastik dan disemprot disinfektan. Sehingga jangan sampai ada penolakan jenazah," pungkas Kompol Sutiono. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00