Kenakan Pakaian Adat Khas Daerah, Yudisium Daring Saat Pandemi Ala FKIP UMM

yudisium daring didampingi orangtua
yudisium dari rumah didampingi orangtua
prosesi yudisium FKIP UMM
Suci Puspita Sari Lulusan Terbaik FKIP asal Jambi

KBRN, Malang: Tidak ada kerumuman, tidak ada antrian jabat tangan dalam yudisium bagi lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kali ini. Di tengah pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19), FKIP UMM menggelar Yudisium Periode II  secara daring melalui platform Zoom dan disiarkan secara live di akun youtube FKIP UMM Official, Rabu (1/7/2020) lalu.

Meski demikian, yudisium bertema “Membangun Optimisme Meretas Kehidupan Baru dalam Dunia Pendidikan” yang diikuti oleh 166 peserta ini tetap berlangsung secara khidmat.

Biasanya saat yudisium, para peserta wajib mengenakan baju formal  atasan putih, bawahan hitam, lengkap dengan jas almamater merah, tetapi yudisium kali ini berbeda. Menariknya, seluruh peserta mengenakan baju adat daerah masing-masing.  Apalagi saat ini para peserta berada di rumah masing masing di berbagai daerah di Indonesia. Sehingga saat yudisium berlangsung, sebagian orangtua peserta lengkap dengan pakaian daerah turut serta dalam prosesi yudisium daring  tersebut.

Ketua Pelaksana Yudisium FKIP UMM, Dr. Sugiarti, Jumat (3/7/2020) menjelaskan, tujuan mengenakan pakaian adat masing-masing daerah adalah untuk memupuk semangat kebangsaan di tengah wabah. Prosesi yudisium dilakukan di tempat masing-masing sehingga dinilai menjadi momen yang pas untuk saling menunjukkan budaya daerah masing-masing.

“Dengan begini akan terlihat, kita memang berbeda-beda tetapi tetap satu Indonesia.  Semangat ini penting untuk digarisbawahi kembali di tengah wabah agar kita bisa saling menguatkan,” katanya.

Menurut Sugiarti, FKIP UMM sebagai salah satu Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan menjadi roda penggerak dalam rangka menata kehidupan baru dunia pendidikan, benar-benar berupaya menyiapkan lulusannya untuk siap terjun menjadi pendidik professional.

Dalam sambutannya, Dekan FKIP, Dr. Poncojari Wahyono, M.Kes., memberi pesan kepada para peserta untuk “SIAP KERJA”. “S maksudnya adalah selalu bersyukur, I adalah ikhtiar, A adalah amanah, kemudian P adalah peduli. Dan kerja ini ada 5 AS, yaitu kerja keras, kerja cerdas, kerja mawas, kerja ikhlas, dan kerja tuntas,” tegas Poncojari Wahyono.

Mengingat kegiatan ini digelar di tengah suasana pandemi, FKIP UMM memutuskan untuk menggratiskan kegiatan yudisium ini. Ini sebagai bentuk empati kepada para orang tua atau wali mahasiswa yang terdampak pandemi Covid-19 secara ekonomi.

“Penggratisan ini sebagai bentuk apresiasi dan berempati terhadap adanya musuh Covid-19 ini. Dengan demikian mudah mudahan bisa meringankan beban orang tua atau wali mahasiswa yang mungkin terimbas dampak musibah,” ungkap Poncojari.

Dalam kesempatan itu Ponco juga menyampaikan petuah dan inspirasi melalui bunga rampai pemikiran dosen ihwal tatanan baru dalam dunia pendidikan.

Lulusan terbaik FKIP UMM dalam yudisium kali ini, dengan IPK 3,95 diraih Suci Puspita Sari mahasiswi Prodi Bahasa Indonesia asal Jambi. Dari rumahnya, Suci mengikuti prosesi  yudisium mengenakan pakaian adat Jambi. Ia bahkan membuat secara khusus dekorasi “Yudisium Dari Rumah” sebagai latar saat ia mengikuti yudisium daring tersebut. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00