Gubes UM Kaji Kualitas Hidup Lansia dalam Perspektif Geografi

KBRN, Malang : Jumlah penduduk lanjut usia (lansia) terutama di wilayah Jawa Timur disebut terus meningkat, hal itu seiring dengan permasalahan lansia yang semakin kompleks. Diantaranya penurunan fungsi organ tubuh karena usia yang berimplikasi pada kesehatan, serta penurunan faktor ekonomi akibat memasuki masa pensiun.

Meski telah memasuki masa lansia, namun kualitas hidup tetap harus baik. Untuk itu, diperlukan strategi  demi mencapai tujuan itu. Hal inilah yang melatarbelakangi guru besar Bidang Ilmu Geografi Sosial pada Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang (FIS UM), Prof. Drs. I Komang Astina, MS., Ph.D untuk melakukan kajian sial perspektif geografi dalam kajian kualitas hidup lansia.

“Saat ini jumlah lansia semakin  meningkat jika dibandingkan angka kelahiran. Sementara permasalahan yang dialami lansia mulai dari faktor kesehatan, hingga masalah sosial. Mereka kesepian karena ditinggalkan anak-anaknya, sehingga ada beberapa lansia yang dititipkan ke panti jompo. Solusi permasalahan ini perlu dipikirkan. Untuk itu, dalam penelitian saya mengusulkan agar lansia tidak tinggal di panti jompo kecuali mereka yang tak punya siapa-siapa," ungkap Komang, Jumat (12/8/2022).

Menurut Komang, jumlah anak yang dimiliki penduduk pada saat ini lebih kecil jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Semakin kecil jumlah anak, maka semakin berkurangnya anak yang berpotensi sebagai penjaga lansia.

"Adanya migrasi tenaga kerja terutama perempuan dari kawasan pedesaan menuju kota-kota dan kawasan industri, tenaga kerja ke luar negeri juga menyebabkan semakin berkurangnya penjagaan terhadap lansia tua," katanya. 

Dari hasil penelitiannya pada lansia di tiga desa yang ada di Kota Batu, aspek geografi ternyata berpengaruh pada kualitas hidup. Lansia yang tinggal di Desa Gunungsari dengan rata-rata usia 73,3 tahun memiliki kualitas dan semangat hidup lebih besar dibandingkan lansia yang lokasi desanya berada di dekat kota seperti di Sumberrejo. 

"Gunungsari ini merupakan desa penghasil sayuran dan bunga mawar yang dikirim ke berbagai kota besar di Pulau Jawa. Aktivitas pertanian di desa ini memungkinkan lebih banyak menyerap tenaga kerja lansia. Keadaan geografis yang masih asri dan terjaga dengan baik mendukung warga hidup saling gotong royong," kata pria yang juga merupakan Korprodi pascasarjana pendidikan geografi FIS UM ini.

Sementara di Desa Sumberrejo, memiliki geografis pemukiman yang lebih padat, dan lingkungan alam yang beralih fungsi dari pertanian ke villa dan permukiman. Serapan tenaga kerja lansia di kawasan ini sedikit atau rendah, karena aktivitasnya lebih banyak melibatkan tenaga kerja muda. Akibatnya, tidak banyak lansia yang produktif.

"Faktor lingkungan dan geografis ternyata mempengaruhi kondisi lansia, padahal mereka bekerja untuk berkegiatan bukan semata mencari upah, tetapi demi kualitas hidup," tutur pria asal Bali ini.

Untuk itu, ada sejumlah hal yang patut dilakukan demi menjaga kualitas hidup lansia. Diantaranya faktor rekreasi, selain hiburan dengan menonton TV, biasanya warga lansia laki-laki menyukai suara alam sehingga menghibur diri dengan memelihara burung. Sementara lansia perempuan suka rekreasi atau jalan-jalan atau berkebun.

"Ada juga yang rekreasi ke objek wisata. Aktivitas ini bisa meningkatkan kegembiraan sekaligus kesehatan. Namun kebutuhan lansia untuk kegiatan rekreasi pada objek wisata perlu didukung fasilitas yang ramah terhadap lansia," kata dia.

"Mengunjungi anak, menantu, cucu, dan saudara merupakan aktivitas rekreasi di luar rumah dengan persentase paling tinggi. Mereka mengaku ada perasaan rindu kepada famili yang terpisah tempat tinggal," imbuh Komang.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar