Garap Film Dokumenter, Tiga Mahasiswa Ikom UMM Berhasil Lulus Tanpa Skripsi

KBRN, Malang : Tiga mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi yakni Devano Ramadhan Pratama, Ahmad Ali Mahfud, dan Muhammad Sofwan berhasil menggarap film dan tayang di di Wathcdoc Documentary, pertengahan Juni lalu. Karya tersebut juga sekaligus membuat mereka bisa lulus tanpa skripsi.

 

Film dokumenter berjudul ‘Menyisir Pesisir Gili Ketapang’ ini mengangkat isu lingkungan yang sangat kompleks. Memperlihatkan kebiasaan masyarakat yang ternyata memberikan efek kurang baik bagi lingkungan. Sementara di sisi lain, pemerintah menjalankan program pariwisata tapi tidak mempertimbangkan kondisi lingkungan yang ada. 

 

Devano, salah seorang anggota kelompok menceritakan bahwa ide film ini muncul sejak awal semester dua lalu. Saat itu mereka diajak untuk membuat film  yang berlokasi di Gili Ketapang. 

 

“Disana kami melihat permasalahan lingkungan yang memprihatinkan. Mulai dari sampah yang menumpuk, pengerukan pasir, dan pengambilan terumbu karang untuk pembangunan rumah. Jika kebiasaan itu berlanjut, tentu akan memberikan dampak buruk bagi pulau ini ke depannya. Apalagi mengingat Gili Ketapang adalah salah satu objek wisata bahari unggulan Jawa Timur,” katanya, Selasa (5/7/2022).

 

Kondisi pemukiman yang bertambah menjadi 10.000 jiwa berefek pada semakin kurangnya ruang lapang di pulau tersebut. Populasi kambing liar yang ada juga semakin meningkat, padahal lahan terus berkurang. 

 

“Akhirnya, sampah menjadi makanan bagi para kambing-kambing. Tidak jarang, beberapa kambing mati di pinggir pantai dan dibiarkan hanyut terbawa arus laut,” kata Mahfud, anggota lainnya.

 

“Kondisi pemukiman yang semakin padat, sampah menumpuk, kebiasaan masyarakat yang susah diubah dan solusi yang tak kunjung datang akan berujung pada hilangnya pulau ini,” imbuh Mahfud.

 

Sementara Sofwan juga menceritakan isi dari film dokumenter tersebut. Menurutnya, pariwisata di Gili Ketapang mulai dikenal banyak orang sejak tahun 2012-2013an, puncaknya pada 2016-2017. Tiap harinya, ada ratusan wisatawan yang datangn untuk menikmati pantai dan snorkeling. 

 

“Hal ini ternyata mengubah sebagian besar pekerjaan warga sekitar. Sebelumnya bekerja sebagai nelayan, kini beralih ke operator wisatawan hingga penjual aksesoris. Sehingga masyarakat setempat tidak lagi bergantung pada hasil laut,” ungkapnya.

 

Dampak positif meningkatnya sektor pariwisata dirasakan masyarakat setempat, bahkan pemerintah juga membangun dermaga selatan. Sayangnya, pertumbuhan pariwisata yang tinggi tidak diimbangi dengan perawatan lingkungan yang mumpuni.

 

“Untuk itu, kami berharap film ini bisa memberikan edukasi pada masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan. Begitupun dengan pemerintah yang harus segera bergerak dan memberikan solusi permasalahan ini,” pungkasnya. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar