UM Resmi Kukuhkan Gubes Kimia dari Universiti Teknologi Malaysia

KBRN, Malang : Universitas Negeri Malang (UM) resmi mengukuhkan Guru Besar Kimia dari Universiti Teknologi Malaysia Prof Hadi Nur PhD. Sebelumnya Prof. Hadi merupakan Adjunct Profesor di FMIPA UM sejak 2017. Pria asal Sumatera Barat itu resmi disetarakan menjadi Guru Besar di Indonesia oleh Kemendikbud ristek menjadi Guru Besar bidang Ilmu Material Maju dan Katalisis Heterogen di UM.

Dalam orasinya, Prof Hadi menggagas tentang kondisi ideal soal penelitian dan pembelajaran.yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa di institusi pendidikan tinggi. Ia menekankan konsep penelitian berbasis pembelajaran atau research based learning.

"Hal ini berkaitan dengan bagaimana mahasiswa memperoleh pengetahuan dan bagaimana menerjemahkannya ke dalam pengembangan belajar dan mengajar. Jadi bukan hanya sekedar penelitian," tuturnya, Kamis (30/6/2022).

Menurutnya, konsep ini berlaku untuk semua bidang ilmu pengetahuan termasuk kimia material. Dalam hal ini, peran dosen sebagai peneliti sangat penting dalam proses pembelajaran berbasis penelitian. 

"Konsep ini mendorong mahasiswa untuk bertindak sebagai peneliti. Dosen perlu menjadi panutan bagi mahasiswa. Mungkin kalimat peneliti yang baik adalah guru yang baik adalah hal yang tepat untuk menjelaskan konsep ini," kata Prof. Hadi. 

Ia berharap, model pembelajaran ini bisa diterapkan di kampus UM ini. Sebab, aplikasi di lapangan masih belum diterapkan.

"Model penelitian yang jujur dan open minded itulah yang disebut peneliti hebat. Aplikasi di lapangan kita masih belum, disini baru memulai, tapi kita harus sadar bahwa itu penting. Universitas tujuannya untuk mendidik orang. Namun mirisnya sekarang ini publikasi penelitian masih dianggap hal yang paling penting. Padahal yang paling penting adalah pembelajaran berbasis penelitian itu," paparnya.

Ia menjelaskan, ada 9 pembelajaran penting yang diperoleh Prof Hadi sepanjang karir melakukan penelitian di bidang kimia material. Pertama, penelitian yang baik membutuhkan waktu. Kedua, dampak penelitian bukan berdasarkan indikator bibliometrik seperti impact factor, tetapi dampak nyata dari publikasi tersebut terhadap ilmu pengetahuan.

"Ketiga, pembelajaran dan penelitian fundamental memerlukan peneliti yang ramai, yang disebut sebagai masa kritis. Selanjutnya, keempat, tim peneliti memberikan kritik pertukaran ide, mempromosikan kompetisi, dan menumbuhkan kerendahan hati," ungkapnya.

Kelima, tim peneliti adalah inkubator untuk pelipatgandaan ide. Peneliti yang unggul adalah masokis intelektual, menikmati aktivitas yang tampaknya menyakitkan atau membosankan. Selanjutnya, keenam, peneliti harus menerima ide-ide paling baru sampai ke jalan buntu. Peneliti harus belajar menerima kegagalan, namun bertahan untuk terus mencoba berulang-ulang. Ketujuh, peneliti hidup untuk sensasi langka mengenai terobosan baru. Perlu ada waktu untuk peneliti untuk berpikir secara mendalam. 

"Yang ke delapan, penelitian berkualitas tinggi tidak dapat dilakukan dalam waktu luang. Dan yang kesembilan, konsentrasi yang intens dalam kondisi nyaman, sehat, dan bahagia adalah sangat penting dalam melakukan penelitian," kata dia.

Ia menambahkan, berdasarkan sembilan hal itu, mahasiswa perlu dididik untuk mandiri, kreatif, mampu berpikir sendiri dan memiliki integritas moral yang tinggi. 

"Inilah pembelajaran yang perlu ditekankan dalam pembelajaran berbasis penelitian, dalam konteks ilmu kimia material di pendidikan tinggi," pungkasnya. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar