Pegiat Literasi Dorong Budaya Aktif Membaca

KBRN, Malang : Pegiat literasi Kota Malang dan penulis buku, Arief Wibisono mendorong masyarakat khususnya tenaga pendidik di sekolah menghidupkan budaya aktif membaca. Sehingga literasi di kota pendidikan bisa terus meningkat.

Hal tersebut diungkapkan Arief di sela kegiatan sosialisasi budaya membaca, literasi dan penyuluhan pengembangan perpustakaan yang dilaksanakan oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (Dispussipda) Kota Malang pada Selasa (28/6/2022).

Dalam kegiatan yang dilaksanakan di gedung perpustakaan dan arsip Kota Malang ini, Arief menjadi salah satu pembicara. Menurutnya, gerakan literasi membaca khususnya di sekolah harus terus dijalankan.“Karena bagaimana pun perubahan dari analog ke digital, tetapi kalau tidak berbasis kekuatan sumber daya manusia tentang literasi, maka tidak akan mungkin literasi di Kota Malang bisa maju,” kata Arief.

Untuk itu, sebagai bagian dari pegiat literasi, Arief berupaya memberikan suntikan ilmu tentang bagaiman cara menulis, bagaimana cara membuat buku.

“Saya mengadakan juga lomba tulis di sekolah, untuk melatih siswa berpikir dan gemar membaca. Saat ini yang sudah dijalankan di Al Irsyad Kota Malang, disana semua siswa diwajibkan punya karya tulis,” ungkapnya.

Penulis buku ‘Empat Dekade Sejarah Musik Kota Malang’ ini juga menekankan, untuk bisa menulis, maka budaya membaca harus digiatkan. Sebab tulisan tak akan bisa jadi jika tak didasari dengan membaca.

“Ditekankan membaca dulu baru tulis, kalau sekarang masih kurang minat baca karena kita kurang menekankan aktif membaca, selain budaya dan minat baca. Jadi biasakan aktif membaca apapun itu,” tegasnya.

Dalam kesempatan ini, Arief juga melakukan bedah buku karya terbaru miliknya berjudul ‘Kilas Balik Sejarah Rumah Potong Hewan’. Dalam buku itu, pria yang kerap disapa Bison ini mengungkap soal sejarah RPH sebagai salah satu tempat yang seharusnya ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

“Saya berharap RPH ini bisa ditetapkan menjadi cagar budaya, karena selama ini masih belum,” kata dia.

Selain itu, ia juga menuliskan soal RPH sebagai tempat filterisasi penyakit pada hewan, salah satunya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang saat ini meresahkan masyarakat.

“Dulu di RPH Kota Malang ini ada mantri hewan kemudian hilang, dengan adanya wabah PMK ini mantri hewan sudah mulai dilaksanakan lagi. Jadi buku ini memberikan edukasi soal dua poin itu,” pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar