Dibanjiri Makanan Asing, Peserta Pertukaran Mahasiswa STIE Malangkucecwara Diajak Cintai Kuliner Indonesia

Peserta MBKM di STIE Malangkucecwara, (ABM) Windi Ikhsa Velani, Asal Universitas Muhammadiyah Metro Lampung
Suasana refleksi MBKM pada Rabu malam (1/12/2021) yang diikuti seluruh peserta menyaksikan sebuah film yang menggugah dan merenungkan tentang kuliner Indonesia yang tidak kalah dengan makanan asing

KBRN, Malang : Khasanah kuliner di Indonesia sejatinya sangatlah kaya dengan beragam aneka rasa, warna dan bentuknya, namun tidak banyak orang kita (Indonesia) mengenal dengan baik bahkan mengkonsumsinya. 

Terlebih kaum milenial sekarang tidak banyak mengenal dan lebih menggandrungi makanan asing daripada makanan Indonesia yang dari segi Ingredient atau bumbunya lebih banyak dari pada kuliner asing yang ala kadarnya.

Menjawab kekhawatiran tersebut Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Malangkucecwara (ABM) melalui  program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) mengenalkan kepada 24 mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai Perguruan Tinggi di luar Pulau Jawa ke aneka ragaman kulinernya Indonesian khususnya kuliner di Kota Malang.

" Melalui refleksi kuliner malangan kita ajak mereka (mahasiswa) mengunjungi lebih dekat tidak hanya sekedar katanya, kita ke bakso kota produk keripiktempe Bu nur disana tidak hanya melihat tapi dikenalkan bagaimana proses pembuatannya, pengemasan hingga penyajiannya,"ungkap Zainul Arifin Dosen Modul Nusantara dari STIE Malangkucecwara (ABM ) Kamis, (2/12/2021)

Dijelaskannya, para mahasiswa ini di gugah keakuanya dalam artian untuk lebih mencintai makanan asli Indonesia karena saat ini Indonesia sedang dibanjiri makanan luar. Padahal kuliner Indonesia jika dilihat dari cita rasanya tidak kalah  namun kenapa mereka kaum milenial ini lebih menyukai makanan asing.

" Target kita membuat mereka tersadar kembali sehingga bisa menggali potensi makanan Indonesia yang justru nanti akan muncul maknana terkenal Indonesia sendiri," harapnya. 

Diakuinya memang masih ada kekurangan khusunya dalam sisi penyajiannya, tetapi jika mahasiswa ini menjumpai pedagang tradisional yang kurang menarik penyajian makanannya mereka bisa menerapkan ilmu yang mereka dapatkan dari STIE Malangkucecwara (ABM) untuk diajarkan kembali ke pedagang tradisional tersebut sehingga tampilannya jauh lebih bagus dan menarik.

Tidak hanya mempelajari soal kuliner khas Malang peserta MBKM juga mempelajari adat istiadat, budaya,  dan toleransi beragama di wilayah Malang Raya. Seperti dikenali Candi Singosari yang menjadi cikal bakal kerajaan yang ada di Jawa.

Salah satu peserta MBKM Windi Ikhsa Velani, Asal Universitas Muhammadiyah Metro Lampung mengaku senang mengikuti program MBKM di STIE Malangkucecwara (ABM) karena semua yang dikenalkan sangat menarik dan tidak pernah mereka jumpai sebelumnya.

" pertukaran mahasiswa program kampus merdeka banyak hal-hal baru yang saya dapatkan disini orang-orangnya ramah, kulinernya enak bervariasi terutama yang terkenal bakso malangnya," tuturnya.

Program pertukaran mahasiswa ini juga bisa mengenal peserta dari lain daerah seperti dari Bali, Sulawesi, Medan yang kesemuanya kumpul jadi satu disini untuk belajar bersama kebudayaan masing-masing daerah yang akhirnya saling mengetahu bagaimana caranya berbudaya berbeda-beda di daerah itu.

Selain itu, Juga sering diajak kunjungan ketempat -tempat yang unik seperti kampung topeng, candi Singosari, dan musium angkut dan kerajinan keripik tempe.

" di kampus ini dosen-dosennya  kompetitif banget terus cara pembelajarannya juga lebih aktif terus dosennya juga lebih bagus pembelajarannya beda gitu loh lebih bagus. kampusnya juga asri adem banget membuat mahasiswa itu nggak bosen di kampus," pungkasnya. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar