Ini Sederet Tantangan Guru di Masa Pandemi

KBRN, Malang : Kondisi pandemi Covid-19 masih membuat proses pembelajaran belum sepenuhnya bisa dilakukan secara tatap muka. Metode blended learning atau gabungan antara daring dan luring menjadi pilihan di tengah masa pandemi. Kondisi ini pun menjadi tantangan tersendiri bagi tenaga pendidik untuk beradaptasi di tengah keterbatasan. 

Pengamat pendidikan Universitas Brawijaya (UB) Malang, Aulia Luqman Aziz mengungkapkan, perubahan kondisi pembelajaran yang sebelumnya sepenuhnya tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh tentunya membuat banyak kalangan guru yang bingung.

“Karena selama ini guru nyaman dengan pengajaran secara konvensional di kelas, tiba-tiba sekarang harus dipadukan menjadi pembelajaran online. Sehingga perlu banyak penyesuaian terutama terkait penggunaan teknologinya,” kata Luqman kepada RRI, Senin (29/11/2021).

Menurutnya, dengan kondisi itu ada sejumlah guru yang cepat menyesuaikan keadaan, namun ada juga yang membutuhkan waktu lama.

“Tantangan selanjutnya terkait penyampaian materi yang biasanya interaksi di kelas bisa meliat ekspresi siswa dan dapat feedback. Kalau pakai sistem daring guru tidak bisa mengetahui secara langsung apakah siswanya mengerti atau tidak. Ini menjadi satu beban psikologis untuk guru,” ungkapnya.

Terkait teknis pengajaran, masih kata Luqman, guru juga dituntut lebih kreatif untuk menyampaikan materi pembelajaran. Jika sebelumnya hanya bisa menggunakan metode pembelajaran konvensional dimana guru menjadi pusat pembelajaran, maka saat ini guru menjadi fasilitator.

“Guru bisa menjadi fasilitator bukan pusat pembelajaran. Dengan kondisi pandemi ini, proses pembelajaran sifatnya tidak lagi pertemuan demi pertemuan, tetapi lebih ke arah project based learning,” tuturnya.

Menurut Luqman, secara kognitif kondisi ini tidak terlalu menimbulkan masalah terlalu banyak masalah. Karena sumber pengetahuan saat ini cukup banyak. Namun yang menjadi kendala dari sisi afektif, pasalnya dengan pembelajaran daring interaksi guru dan siswa minim.

“Jadi siswa seolah tidak ada yang membimbing. Solusinya tidak boleh full online. Kalau pembelajaran 

di tatanan perguruan tinggi full online tidak masalah. Tetapi kalau anak usia sekolah, pembelajaran tatap muka masih yang terbaik,” kata dia.

“Untuk itu, bagaimanapun caranya pembelajaran tatap muka harus dilaksanakan meskipun sifatnya berdampingan dengan pembelajaran daring,” imbuhnya.

Kendati begitu, tantangan terbesar adalah terkait kesehjateraan guru, terutama guru honorer. Untuk itu, di momen hari guru ini pihaknya berharap pemerintah juga memperhatikan kesehjateraan guru.

“Guru dituntut lebih kreatif dan inovatif, tetapi jika kesehjateraannya tidak dipenuhi kasihan,” pungkasnya. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar