Limbah Plastik Bisa Diolah Menjadi BBM Setara Premium

Contoh alat pengolahan limbah plastik menjadi minyak

KBRN, Malang: Limbah plastik apabila dipilah, dibersihkan sesuai dengan jenisnya, kemudian diolah, dapat menjadi minyak pirolisis yang setara dengan solar dan minyak tanah. Hal itu diungkapkan Ketua Jurusan Kimia Fakultas MIPA Unversitas Brawijaya Dr. Yuniar Ponco Prananto kepada RRI, Rabu (4/8/2021).

“Di Malang kan banyak bank sampah yang dapat mengolah limbah plastik agar bermanfaat. Jadi bisa mengurangi sampah plastik, sekaligus bisa membantu pemerintah mencari sumber energi alternatif,” kata Yuniar.

Saat ini Yuniar Ponco sedang mendampingi sekaligus turut mengembangkan penelitian bersama dengan tiga mahasiswa Jurusan Kimia yaitu Galuh Wahyu Karti’a, Halifah Salsabila, dan Fadhilah Al Mardhiyah, mencari formulasi yang tepat dari sumber-sumber zat bio aditif  dalam rangka meningkatkan bilangan oktan agar minyak pirolisis dari limbah plastik yang masih setara dengan solar dan minyak tanah ini dapat menjadi minyak pirolisis yang setara dengan premium. Dengan cara ini diharapkan nilai jualnya menjadi lebih tinggi dan masyarakat mempunyai sumber baru bahan bakar minyak (BBM) untuk kendaraan bermotor.

Menurutnya, saat ini penting semua pihak bergerak untuk inovasi karena kebutuhan energi makin tinggi, sehingga kebutuhan bahan bakar makin tinggi. Kalau Indonesia hanya mengandalkan energi dari fosil, tentu tidak bisa terpenuhi. Maka pemerintah punya program nasional ketahanan energi salah satunya memberdayakan potensi energi terbarukan, surya, angin, air atau bahkan dari regenerasi pengolahan limbah plastik.

“Selama ini hanya untuk kerajinan atau diolah kembali atau recycling. Memang belum banyak berkontribusi, tapi harus dilakukan gerakan ke sana,” imbuhnya.

Menurut Yuniar Ponco, karena limbah plastik melimpah dan bahan baku plastik dari minyak bumi, maka dengan proses pirolisis yang pas bisa mendapatkan minyak yg bisa digunakan seperti hasil penyulingan minyak bumi yang lain.

Aspek ramah lingkungan dilihat sumber bahan bakunya dengan mengolah limbah plastik yang belum tersentuh secara masal. Sehingga ke depan perlu ada sosialisasi bekerjasama dg beberapa komunitas pengelola Bank Sampah untuk mengenalkan teknologi ini.

“Kalau sekarang minyak yang dihasilkan beberapa komunitas masih berupa solar sehingga sering kerjasama dengan nelayan. Jadi nantinya kalau suply solar pemeritah habis, nelayan tetap bisa melaut dengan memproduksi minyak sendiri dari mengolah limbah plastik,” terang Yuniar dengan semangat.

Di akhir perbincangan dengan RRI, Yuniar Ponco berharap bahwa apabila formulasi sudah selesai, pihaknya akan mengusulkan ke pemerintah setempat untuk mengolah limbah dalam skala besar. Misal di Surabaya atau malang Raya yang limbah plastiknya sangat besar.

“Selama ini hanya pakai insenirator atau dipakai untuk bio gas. Ke depan dapat dikembangkan agar dilakukan produksi lokal minyak. Jadi komunitas bisa swasembada, mencari dan menerima sampah, diolah, bisa dimanafaatkan untuk keberlangsungan nelayan agar bisa  melaut dengan harga minyak yang murah,” pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00