Angkat Isu HAM di Era Perkembangan Teknologi, Dosen UMM Raih Penghargaan Social Impact Award

Sholahuddin Al-Fatih, S.H., M.H. (Foto : Istimewa)

KBRN, Malang : Angkat isu perkembangan teknologi dan Hak Asasi Manunia (HAM) dalam hukum, dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sholahuddin Al-Fatih, S.H., M.H. mendapatkan penghargaan Social Impact Award. Penghargaan ini dikeluarkan oleh Fakultas Hukum (FH) Universitas Brawijaya (UB) pada acara Seminar Nasional Artificial Intelligence dalam Bidang Hukum di Era Teknologi Informasi pada 22 Juli lalu.

Dalam tulisannya, Sholahuddin Al-Fatih mengulas tentang perilaku masyarakat Indonesia dalam bersosial media. Meskipun perkembangan teknologi sangat pesat, namun mayarakat tidak memiliki literasi yang baik dalam menyikapi teknologi tersebut.

“Meskipun berpendapat dalam ranah sosial media merupakan Hak Asasi Manusia (HAM), namun jika tidak dikontrol dengan baik, hal tersebut akan memunculkan dampak-dampak negatif. Dampak tersebut dapat berupa penyebaran berita bohong, penipuan, hacking, serta pencemaran nama baik,” ujar Fatih, sapaan akrabnya, Rabu (28/7/2021).

Menurutnya, guna menghindari dampak-dampak buruk dalam bersosial media, dosen kelahiran Gresik ini memberi beberapa solusi. Yakni, tiap orang harus memiliki batasan moral dan kontrol yang baik. 

“Jadi, kebebasan berpendapat di sosial media bisa diwujudkan secara bertanggungjawab. Selain kesadaran Individu, pemerintah juga harus melakukan langkah-langkah konkrit untuk mengurangi dampak negatif yang timbul dari dunia maya,” katanya.

Tak hanya itu, sambungnya, bisa saja pemerintah melakukan pembatasan kepemilikan gadget berdasarkan kelompok usia untuk melindungi anak di bawah umur. 

“Pemerintah juga bisa melakukan pembatasan penggunaan akun media sosial dengan batasan usia minimal 17 tahun. Kemudian upaya pemblokiran akun yang bermuatan SARA. Cara terakhir yakni dengan mengkampanyekan konten positif,” ungkap Fatih.

Fatih berharap, masyarakat bisa lebih berhati-hati dalam  berkomentar ataupun memposting sesuatu di dunia maya, terutama di media sosial.

“Semoga masyarakat bisa terus membenahi diri dan menjadi lebih santun dalam berinteraksi secara virtual. Sehingga tidak ada lagi konten-konten hoaks, hate speech, penipuan dan hal buruk lainnya di dunia maya,” pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00