PTMT Kota Malang Dilakukan, Siswa Masuk dengan Sistem Ganji - Genap

KBRN, Malang : Proses Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) di Kota Malang untuk siswa jenjang SD dan SMP telah dimulai pada Senin (19/4/2021). Dari 960 SD-SMP, ada 85 persen sekolah yang telah menerapkan pembelajaran luring. Setiap sekolah pun berupaya menerapkan protokol kesehatan secara ketat, salah satunya terkait pembatasan jumlah siswa yang masuk. Saat ini, sekolah menggunakan sistem ganjil - genap.

Kepala SDN Kauman 1, Dra Umi Kulsum, M.Pd. mengungkapkan, pada hari pertama hanya siswa kelas 1-6 dengan nomor absen ganjil yang mengikuti  pembelajaran tatap muka di sekolah. Sementara untuk siswa dengan nomor absen genap mengikuti pembelajaran secara daring di rumah. 

“Di hari besoknya giliran siswa dengan nomor absen genap yang masuk ke sekolah.  Pembelajaran tatap dimulai pukul 07.00 hingga 09.00 WIB. Kemudian guru baru melayani siswa yang sekolah daring,” ungkapnya. 

Setiap siswa yang akan masuk ke sekolah diharusnya mencuci tangan dan menjalani pemeriksaan suhu tubuh. Mereka juga tidak diperbolehkan menggunakan kendaraan umum, harus diantar maupun dijemput orang tua. Kursi di kelas juga diatur berjarak dengan jumlah siswa 50 persen dari kapasitas.

“Untuk mengurangi kerumunan, kami sediakan dua pintu gerbang untuk pengantaran dan penjemputan siswa,” tutur Umi.

Usai proses pembelajaran, pihaknya melakukan briefing dan evaluasi bersama guru kelas. Sehingga hal-hal yang kurang terkait PTMT ini bisa diperbaiki lagi. Di sekolah tersebut, dari 552 siswa, hanya 39 persen siswa yang tidak mendapatkan izin dari orang tuanya untuk mengikuti pembelajaran luring.

“Untuk yang belum dapat izin, kami tetap layani siswa yang bersangkutan dengan pembelajaran daring,” tandasnya. 

Sistem ganjil genap itu juga diterapkan di SMPN 6 Malang. Ada 85 persen siswa yang mendapatkan izin orang tua untuk mengikuti PTMT ini. Sementara sisanya masih ragu. Di sekolah ini, proses pembelajaran dilakukan mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIB. 

“Dari jam itu kita beri waktu istirahat 15 menit untuk siswa. Tetapi mereka tetap harus berada di dalam kelas didampingi guru,” kata Kepala SMPN 6 Malang, Risna Widyawati.

Dalam pembelajaran tatap muka terbatas ini, pihaknya menggunakan kurikulum darurat. Setiap satu mata pelajaran durasinya 30 menit.

“Kami berharap pembelajaran tatap muka ini sudah sesuai seperti yang diharapkan orang tua. Kalau ada kekurangan akan kami evaluasi dan perbaiki,” pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00