51 Kasus Kejahatan Seksual di Maros Tahun 2020

KBRN, Makassar : Tahun 2020, jumlah kasus kekerasan seksual atau kasus persetubuhan yang berhasil ditangani Tim Pekerja Sosial (Peksos) Dinas Sosial (Dinsos)Kabupaten Maros sebanyak 51 kasus.

Menurut salah satu personil Peksos Dinsos Maros, Muhammad ihsan mayoritas para pelakunya berasal dari

orang tua kandung dan orang tua tiri 

"Para pelaku kekerasan seksual tersebut telah diproses dan telah masuk di ranah peradilan. Dan telah jatuh vonis berdasarkan Undang-Undang Perlindungan Anak" jelas M.Ihsan Minggu (07/03/2021).

Lebih lanjut ia mengatakan kami dari perlindungan anak tetap melakukan edukasi melalui sosialisasi.

"Bentuk sosialisasi ke masyarakat mulai dari sosialisasi pencegahan kekerasan seksual, kekerasan fisik hingga penyalahgunaan nafsah", urainya

Menurutnya kekerasan seksual terjadi lantaran kurangnya pola pengasuhan terhadap anak, kasih sayang dan faktor ekonomi.

"Tiga indikasi tersebutlah yang menyebabkan terjadilah hal-hal yang tidak diinginkan muncul dari orang tua kandung maupun orang tua orang tua tiri sehingga pelampiasannya ke anak kandung atau anak tirinya" tambah Ihsan.

Melihat grafik persentase dari tahun 2019 dengan 2020, lanjut Ihsan, data jumlah kasusnya mengalami peningkatan, lantaran tidak adanya sosialisasi kepada masyarakat, sehingga jumlahnya mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya.

"Peningkatan jumlah kasus kekerasan seksual ini, bukan lantaran tim perlindungan anak di Peksos tidak berhasil menangani masalah tersebut, tetapi dari tahun-tahun sebelumnya, kurangnya edukasi, kurangnya bentuk sosialisasi mulai dari desa Kecamatan sampai ke skop Kabupaten." urainya

"Namun saat ini, seluruh kasus yang terkuak di masyarakat, telah mampu ditertibkan. Karena Dinsos Maros telah membentuk kantor pengaduan di Pusat Kesejahteraan Sosial Anak Integrative yang beranggotakan seluruh OPD lingkup Pemkab Maros." jelasnya.

Bagi masyarakat yang ingin mengadukan permasalahan kekerasan seksual, bisa memasukkan laporannya di kecamatan.

"Dinsos Maros telah membentuk tempat pengaduan di beberapa kecamatan. Jadi tidak selamanya kasus kejahatan seksual dilapor ke pihak berwajib. Karena pihaknya ingin menyelesaikan permasalahan tersebut secara kekeluargaan dan musyawarah" ungkapnya.

Peksos Dinsos Maros, tegas Ihsan terus mengimplementasikan amanat sistem undang-undang pidana anak nomor 11 tahun 2012 serta akan menerapkan Restorasi justice atau pemulihan nama korban.

"Oleh karen itu, pihaknya akan memberikan pemahaman kepada masyarakat,aparat desa khususnya tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda hingga orangtua agar bisa memahami perlindungan anak", lanjutnya.

Berdasarkan data dari Pekerja Sosial, Dinas Sosial Kabupaten Maros, anak-anak yang menjadi korban kejahatan seksual rata-rata berusia 14 hingga 16 tahun. Mayoritas anak berusia 16 tahun yang kerap menjadi korban seksual.

Sementara, korban persetubuhan melahirkan anak di tahun 2020 hanya dua orang.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00