Sosialisasi Budaya Sensor Mandiri Hadirkan Perfilman Bermutu

KBRN, Makassar : Lembaga Sensor Film (LSF) Republik Indonesia (RI) menggelar Sosialisasi Budaya Sensor Mandiri di Hotel Aston Makassar, Kamis (24/03/2022).

Kegiatan tersebut dihadiri langsung Ketua Komisi I LSF RI, Dr Nasrullah MA, Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof Drs. Hamdan Juhannis, MA, P.hD.

Kegiatan yang dilangsungkan hingga jam 12.00 WITA tersebut, juga dihadiri para akademisi, KPID Provinsi Sulsel, unsur masyarakat, ikatan pelajar kota makassar, perwakilan instansi pemerintah, serta unsur wartawan.

Kepada wartawan, Ketua Komisi I LSF RI, Dr Nasrullah MA, kegiatan ini digelar guna memberikan edukasi kepada masyarakat terkait UU tentang Perfilman. 

"Kita berkewajiban memberi pengetahuan pendidikan kepada masyarakat tentang tujuan prinsip perfilman. Melalui sarana perfilman masyarakat bisa cerdas, serta lebih sejahtera hidupnya hingga budaya Indonesia dikenal di dunia secara umum" jelas Nasrullah.

Nasrullah menjelaskan Lembaga Sensor Film akan membebani biaya kepada masyarakat apabila produksi film dan iklannya ingin melewati prosedur penyensoran.

“Segala biaya yang dikeluarkan publik, sepenuhnya masuk dalam rekening Kementerian Keuangan (Rekening Simponi). Pasalnya LSF merupakan lembaga pelayanan, bukan lembaga profit", tegasnya.

Sepanjang periode Januari-Desember 2021 total materi sensor yang telah didaftarkan ke LSF tercatat sebanyak 40.640 judul.

Ada empat penggolongan usia penonton yakni Semua Umur, penonton 13 tahun, penonton 17 tahun, dan penonton 21.

Dalam kegiatan Sosialisasi Budaya Sensor Mandiri juga digelar diskusi dan tanya jawab terkait Pengenalan tentang LSF dan Pentingnya Sensor Film oleh Joseph Samuel KAA, SH (Komisi I LSF), Pentingnya Literasi Digital di Lingkungan Pendidikan dan Kebudayaan oleh Andi Syamsu Rijal, M.Hum (Kepala BPNB Makassar) dan Sensor Mandiri dari Perspektif Pelaku Perfilman oleh Ir. Arwan Tjahjadi, Executive Produser Film Ati Raja.

Lembaga Sensor Film Republik Indonesia (LSF) adalah Lembaga Negara Independen yang memiliki tugas melakukan penyensoran film dan iklan film sebelum diedarkan dan/atau dipertunjukkan kepada khalayak umum.

Pasal 61 Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman, mengamanatkan LSF untuk (1) memasyarakatkan penggolongan usia penonton film dan kriteria sensor film; (2) membantu masyarakat agar dapat memilih dan menikmati pertunjukan film yang bermutu serta memahami pengaruh film dan iklan film; (3) mensosialisasikan secara intensif pedoman dan kriteria sensor kepada pembuat dan pemilik film agar dapat menghasilkan film yang bermutu.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar