Peluang Industri Kopi Sulsel di Pandemi Covid-19

Ilustrasi biji kopi kering di dalam genggaman. (unsplash.com)

KBRN, Makassar: Sulawesi Selatan sejak dahulu dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kopi, utamanya daerah Toraja. Sejauh ini potensi lahan di Sulsel masih banyak yang berpotensi untuk komoditi kopi namun belum banyak dimanfaatkan untuk produktifitas.

Trainer Kampong Kopi Bawakaraeng, Awaluddin mengatakan bahwa produktifitas kopi di Sulsel dibandingkan dengan negara lain masih sedikit. Saat ini di Sulsel produktifitasnya baru sekitar 600 hingga 700 kilogram untuk setiap hektarnya.

"Kondisi ini masih sangat jauh dibandingkan dengan negara penghasil kopi lainnya yang sudah mampu memproduksi sekitar dua juta ton kopi untuk setiap hektarnya," kata Awaluddin, Selasa, (20/10/2020).

Alumni Pertanian Universitas Muslim Indonesia itu menyebut, sejauh ini untuk kopi di Sulsel dibagi dalam dua klaster yakni klaster utara dan juga selatan. Untuk bagian utara dikenal ada kopi Toraja, dan Enrekang kalosi. Sementara untuk wilayah selatan ada kopi jenis arabika Bawakaraeng.

"Untuk kopi Bawakaraeng sendiri meliputi daerah-daerah di Selatan seperti Kabupaten, Gowa, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, dan Sinjai. Untuk karakter dari kedua klaster sendiri berbeda, dari klaster utara  cenderung asam dan buah, sedangkan untuk klaster selatan cita rasanya gula aren," ujarnya.

Berkaitan dengan masa pandemi virus corona atau covid-19 sendiri kata Awaluddin industri kopi mengalami dampak yang cukup besar. Seperti pengiriman untuk ekspor banyak yang tertunda, demikian juga permintaan dalam negeri juga mengalami penurunan.

Sementara itu, Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Sulsel, Bahrul Ulum Ilham menyebut luas lahan tanam kopi di Sulsel hingga tahun 2018 sekitar 58 ribu hektare, dimana jenis kopi yang banyak di tanam masih di dominasi arabika sebanyak 34 ribu hektare dan jenis robusta 24 ribu hektare.

"Target produksi kopi di 2019 yakni satu juta ton. Dengan potensi itu, Sulsel bahkan mampu mengekspor rerata 13 persen produksi kopi ke sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Belgia dan Australia," kata Bahrul.

Akan tetapi dengan adanya masa pandemi covid-19, saat ini petani kopi khususnya di Sulsel mengalami tantangan tersendiri, utamanya masalah harga kopi yang mengalami penurunan secara drastis.

"Harga biji kopi saat ini mengalami penurunan dari Rp.68 ribu per kilogram menjadi hanya Rp.26 ribu untuk per kilogramnya," tambah founder Makassar Preneur tersebut.

Bahrul menyebut, sebenarnya beberapa sentra kopi di Indonesia memasuki masa panen raya pada September 2020 lalu, namun karena ada pandemi membuat permintaan secara global maupun domestik mengalami penurunan secara drastis.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00