Tak Mampu Bertahan di Masa Pandemi, Puluhan Usaha Hiburan Bangkrut

KBRN, Makassar : Sejak masa pandemi Covid-19, sektor usaha hiburan dipaksa tutup oleh pemerintah. Tujuannya untuk mencegah penyebaran virus Corona.Para pelaku usaha bisnis ini pun menanggung kerugian yang tidak sedikit. 

Sejak pandemi Covid-19 itu pula, diperkirakan 32 persen tempat hiburan di di Kota Makassar bangkrut. Selain tidak adanya pemasukan selama lebih kurang 19 bulan lamanya, pengusaha tempat hiburan juga tetap harus membayar sejumlah kewajiban bagi para pekerja/karyawan, termasuk pajak dan tanggungan kredit.

Ketua Asosiasi Usaha Hiburan Makassar (AUHM), Zulkarnain Ali Naru mengatakan, pihaknya masih melakukan pendataan rinci terkait jumlah tempat hiburan yang bangkrut tersebut.

"Saya prediksi lebih dari 32 persen yang tutup dari jumlah 102 usaha. Entah karena bangkrut atau tutup sementara saja, yang jelas dampak dari pandemi ini sangat terasa, bukan saja bagi para pengusaha melainkan juga para pekerja yang menggantungkan hidup para usaha-usaha hiburan," kata Zul, sapaan akrab Ketua AUHM ini.

Usaha hiburan seperti Karaoke Umum, Karaoke Keluarga, Cafe-Resto dan Bar/Pub tersebut gulung tikar, diduga karena pengelola tidak lagi mampu membayar uang sewa bangunan dan juga perawatan peralatan.

"Jadi memang kondisinya sudah sangat berat untuk para pengusaha tempat hiburan saat ini. Kalau pun masih ada yang bertahan itu pun hanya yang besar-besar saja dan hanya yang memang memiliki tempat usaha sendiri, bukan mereka yang kontrak atau bayar sewa tempat usaha," sambungnya.

Lalu, bagaimana cara para pelaku usaha tadi bertahan hidup tengah situasi tersebut?

Menurut Zul, tak banyak yang bisa dilakukan para pengusaha bisnis ini. Selain, bertahan hidup dari aset dan tabungan yang dimiliki.

"Pengusaha bertahan paling dari aset atau tabungan yang ada saja sekarang," ujarnya.

Namun, yang lebih memprihatinkan justru para karyawan dan pekerja profesi di bisnis hiburan ini. 

Kata Zul, dari total sebelumnya 4.214 pekerja/karyawan, kini yang eksis hanya sekitar 3.814 orang. Selebihnya terpaksa harus mencari kerja pada bidang usaha lain karena usaha mereka ditutup atau bangkrut sejak masa pandemi Covid-19.

"Mereka yang masih eksis ini, termasuk karyawan dan kalangan disc jockey (DJ) serta komunitas pemusik, yang sehari-harinnya masih punya penghasilan dari sektor lain. Hanya saja, apa yang mereka dapat hari itu, pasti habis buat hari itu juga. Mereka tidak lagi bisa menabung. Fakta lainnya, malah sudah banyak karyawan yang menjual aset pribadi, tidak sedikit yang sudah menjual TV atau barang elektronik lainnya, dijual semua, kompor dijual, sampai sepatu dan helm saja mereka dijual untuk bertahan hidup," tutupnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00