Keberanian Polres Pangkep dan Gakkum KLHK Diuji, Dalam Mengungkap Pelaku Pencemaran Sungai Pangkajene

KBRN, Pangkep : Wahana Lingkungan Hidup Sulawesi Selatan (Walhi Sulsel) mendesak aparat Penegak Hukum Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sulawesi Selatan (Gakkum KLHK Sulsel) serta Aparat Kepolisian Resor Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) untuk menangkap pelaku yang diduga telah mencemari sungai pangkajene Kabupaten Pangkep.

"Kalau dilihat dari perubahan warna sungai pangkajene di foto ini, hal itu jelas memperlihatkan adanya tumpahan solar. Begitupun dengan keluhan warga, terkait bau yang menyengat kian memperkuat adanya bukti sungai pangkajene sudah terkontaminasi oleh solar. Kami perlu menyampaikan bahwa tumpahan solar di sungai pangkajene yang berada di Kecamatan Bontoa Kabupaten Pangkep itu adalah bentuk pencemaran lingkungan berat dan merupakan dugaan kejahatan lingkungan yang harus segera ditindak oleh penegak hukum", tegas Direktur  Wahana Lingkungan Hidup (Walhi Sulsel) Muhammad Al Amin, Minggu (07/03/2021).

"Kami berharap Kapolres Pangkep dan Penegak Hukum Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sulawesi Selatan (Gakkum KLHK Sulsel) bisa turun langsung ke lapangan dan melakukan penyegelan langsung terhadap pabrik marmer yang diduga menumpahkan solar ke sungai." tambahnya.

Terkait sengaja atau tidak sengaja menumpahkan solar ke sungai, hal tersebut tegas Amin tidak menutup  pelanggaran yang dilakukan.

"Yang terpenting, telah terjadi tumpahan solar yang masuk ke sungai dan mencemari lingkungan ekosistem didalamnya. Pelaku atau pemilik pabrik marmer tersebut harus segera diproses

guna mengetahui lebih lanjut, apakah ada unsur sengaja atau tidak sengaja terkait terjadinya pencemaran sungai ini. Kalaupun tidak sengaja, saya mengatakan juga bahwa permasalahan ini, harus tetap diproses. Karena hal ini, membuktikan ketidakmampuan pemilik perusahaan dalam perlindungan lingkungan yang kuat di sekitar lokasi industri mereka." urai Amin.

Menurutnya, hari ini, tim Walhi Sulsel akan menuju ke lokasi sungai yang tercemar oleh solar.

"Membekali kontak yang dimiliki, kami akan mencek ke lokasi guna memastikan bahwa sudah dilakukan penegakan hukum. Jadi disaat berada dilapangan, kami tidak akan lagi bicara masalah pencemarannya. Karena informasi yang dikantongi telah lengkap. Dan kami ke lapangan bukan untuk melakukan investigasi, namun untuk memastikan tindakan penegakan hukum yang dilakukan aparat Polres Pangkep bersama aparat Gakkum KLHK Sulsel secepatnya." ucapnya.

Dijelaskan amin, ranah pidana harus diselesaikan penegak hukum dalam menuntaskan permasalahan pencemaran air sungai pangkajene ini.

"Walhi siap mendampingi masyarakat yang terdampak pencemaran sungai ini, dan mendampingi warga untuk  menggugat perusahaan marmer yang telah menyebabkan biota dan ekosistem di sungai pangkajene terkontaminasi oleh limbah solar. Atau mendampingi warga untuk memastikan pelaku pencemaran sungai diproses secara transparan dan tepat." ujar Amin.

"Pasalnya pencemaran yang terjadi ini,sudah masuk dalam kategori kejahatan lingkungan yang berat" tambahnya.

Direktur Walhi Sulsel berharap agar Penegak Hukum mengusut lebih luas kasus pencemaran lingkungan tersebut, serta melakukan pemeriksaan dokumen perizinan tambang marmer yang berada di hulu sungai Pangkajene. Terutama pada izin Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL), mengingat dari hulu ke hilir ada ribuan warga yang bermukim di sekitar sungai. 

"Saya kira ini ranah pidana yah, yang harus ditegakkan penegak hukum. Ini harus diperiksa pihak-pihak terkait yang memberi ijin mulai camat, Bupati. Kita lihat terbit tambangnya kapan, terbit ijin operasinya kapan. Jadi penting mendesak kepolisian bahwa memastikan dilakukan penegakan hukum terhadap pemilik. Lalu dibongkar ada tindak pidana perizinan di dalamnya", pungkasnya

Sebagaimana diketahui, warga yang bermukim  di sekitaran  tugu Bambu Runcing kabupaten Pangkep dibuat geger atas bau solar yang menyengat dari sungai Pangkajene pada Sabtu (06/03/2021).

Sebab bau solar yang menyengat tersebut terjadi sejak pagi hari, dan baunya mulai berangsur hilang pada malam hari. Namun, sumber  tumpahan solar tersebut hingga kini masih tanda tanya dan memunculkan beragam spekulasi. Dari pengakuan warga bahwa solar tersebut diduga kuat berasal dari hulu sungai. Dari hasil penelusuran awak media, di hulu sungai Pangkajene terdapat sejumlah tambang marmer, tepatnya di Kelurahan Bontoa, Kecamatan Minasaten. Kabarnya dalam pengoperasian tambang marmer, perusahaan aktif menggunakan solar sebagai bahan bakar untuk  alat berat.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00