Batal Divaksin, NH Imbau Masyarakat Sulsel Untuk Vaksinasi Sinovac

KBRN, Makassar : Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah - Andi Sudirman Sulaiman, melaunching pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di Sulsel, di Rumah Sakit Dadi, Kamis, (14/01/2021). Launching ini merupakan bentuk progran percepatan vaksinasi di Sulsel, yang mendapat jatah 66.640 vaksin.

"Kita bersyukur alhamdulillah Bapak Presiden mendorong percepatan vaksinasi pada masyarakat Indonesia. Kali ini kita kebagian 66.640 vaksin, yang tentu kita mulai hari ini," kata Nurdin Abdullah.

Dalam persiapan menuju vaksinasi, pemerintah banyak mengalami berbagai hambatan. Termasuk berita dan informasi yang membuat masyarakat bingung akan vaksin ini.

"Memang pemerintah mengalami hambatan yang cukup berat. Karena banyak berita-berita yang membuat masyarakat kita bingung. Saya ingin sampaikan pada kita semua, bahwa pandemi Covid-19 ini solusinya adalah vaksin, bukan apa-apa," terang Nurdin.

Vaksinasi perlu karena angka positif meningkat. Untuk itu, ia meminta Dinas Kesehatan memperbanyak tracing dan testing. 

"Karena semakin banyak kita temukan, maka semakin menurunkan tingkat penularan," sebutnya.

Tidak semua orang dapat divaksin dalam Surat Keputusan Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Nomor HK 02.02/4/1/2021 Tentang Teknis Pelaksanaan Vaksinasi dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Covid-19. Terdapat 15 kondisi orang yang tidak bisa divaksin, serta didalam format skrining khusus untuk vaksin Sinovac berdasarkan rekomendasi Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) tersebut. Terdapat sedikitnya 16 pertanyaan yang mesti dijawab oleh calon penerima vaksin.

Nurdin Abdullah sendiri tidak memenuhi salah satu kondisi, walaupun dalam keadaan sehat. Sehingga untuk tahap pertama ini, belum dilakukan vaksinasi. Ini setelah dilakukan screening dan pengkajian. Demikian juga dengan beberapa pejabat lainnya yang tidak memenuhi kriteria seperti pernah positif atau tekanan darah tinggi.

"Karena ini juga kriteria yang harus betul-betul kita perhatikan. Seperti saya dari kriteria kesehatan semua memenuhi syarat. Termasuk tekanan darah dan sebagainya. Tapi karena ada kerabat yang terkonfirmasi positif, maka kami (saya) tidak bisa divaksin," jelasnya.

Kondisi yang dimaksud adalah terdapat anggota keluarga serumah yang kontak erat atau suspek atau konfirmasi atau sedang dalam perawatan karena penyakit Covid-19 sebelumnya.

Selanjutnya, ia meminta melalui Kementerian Kesehatan untuk mengkaji hal ini, sebab tenaga kesehatan juga setiap hari menghadapi pasien terkonfirmasi positif.

"Jujur saja kami semua sudah siap untuk melakukan vaksinasi, tetapi kriterianya itu yang membuat tidak bisa," imbuhnya.

Nurdin sendiri dijadwalkan akan melakukan vaksinasi tiga bulan kemudian.

Nurdin Abdullah, menegaskan, vaksinasi adalah solusi untuk memotong mata rantai Covid-19. Penggunaan vaksin Sinovac di Indonesia telah melalui proses uji klinis dan juga telah memiliki izin penggunaan dari BPOM berupa sertifikat penggunaan Darurat atau Emergency Use of Authorization (EUA), dan sertifikat halal dari MUI. 

"Saya ingin jelaskan pada kita semua. Bahwa niat baik pemerintah untuk mengadakan vaksin ini tujuannya satu, adalah melindungi masyarakat. Saya yakin tidak ada pemerintah yang mau merusak masyarakatnya," kata Nurdin Abdullah.

Sebagai masyarakat yang berbangsa dan bernegara. Ia berharap agar mengikuti anjuran pemerintah.

"Kita punya pemerintah, kita ikuti pemerintah. Niat baik Bapak Presiden untuk mengadakan vaksin itu sebuah kesyukuran kita. Begitu cepat beliau melangkah supaya kita bisa terlindungi dengan cepat," ujarnya.

Dengan melihat kasus yang akhir-akhir ini terus menanjak naik, maka salah satu solusinya adalah vaksin. Untuk itu, ia berharap masyarakat mendengar, melihat dan membaca informasi resmi pemerintah dan informasi yang sumbernya terpercaya.

"Dan majelis ulama juga sudah memberikan fatwa bahwa vaksin ini halal," pungkasnya. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00