Enam Kabupaten di Sulsel Usul Pembukaan Sekolah Tatap Muka

Guru menyemprotkan cairan disinfektan ke sepatu siswa sebelum masuk kelas di SMPN 2 Pariaman, Sumatera Barat, Selasa (17/11/2020). Pemkot Pariaman kembali memberlakukan pembelajaran tatap muka untuk seluruh sekolah di kota itu, dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat dan membatasi hanya 50 persen murid berada di dalam kelas. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/aww.

KBRN, Makassar : Sejumlah sekolah di Sulawesi Selatan mengusulkan untuk melakukan pembelajaran secara tatap muka. Sekretaris Disdik Sulsel Hery Sumiharto membenarkan jka pihaknya sudah ada sejumlah usulan dari sejumlah sekolah.

“Disdik Sulsel melalui kepala bidang dan cabang dinas tengah mendata sekolah yang sudah siap melaksanakan kegiatan belajar tatap muka. Pihak sekolah menawarkan usulan dengan menerapkan protokol kesehatan pencegahan COVID-19,” kata Hery kepada wartawan, Senin (23/11/2020).

Heri menyebut, beberapa sekolah yang sudah mengusulkan untuk melakukan pembelajaran tatap muka berasal dari sejumlah daerah diantaranya Kabupaten Pinrang, Pangkep, Luwu Utara, Maros, Gowa dan Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).

“Jika dilihat dari vidio simulasi yang dikirimkan ke kami, banyak yang sudah siap," ucapnya.

Hery mengatakan, pihak sekolah yang mengusulkan belajar tatap muka mengirimkan simulasi kegiatan belajar mengajar. Di sana ditampilkan penerapan protokol kesehatan, antara lain mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak.

"Seperti yang dikirimkan SMA 4 Sidrap yang kami terima, di sana diperlihatkan bagaimana siswa ketika tiba di sekolah, belajar, saat makan hingga waktu pulang yang dijemput pihak keluarga," ujar Hery.

"Pada intinya proses pembelajaran tatap muka tergantung dari sekolah yang bersangkutan. Jika sudah mengajukan, maka kami akan lihat bagaimana kondisinya,” tambahnya.

Sebelumnya, Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah pernah mengatakan, pemerintah daerah sebaiknya tidak mempersulit sekolah menggelar belajar tatap muka. Terutama di daerah yang sudah dianggap aman dari penyebaran COVID-19.

Menurut Nurdin, yang tahu persis kondisi adalah kepala sekolah masing-masing. "Kalau kepala sekolahnya sudah menyiapkan protokol kesehatan dengan baik, wajib cuci tangan, wajib pakai masker di sekolah, terus di sekolah juga diatur jarak mungkin kapasitas 50 persen dulu terus yang kedua 50 persen, kan bisa di atur seperti itu," jepasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00