Lima Pedagang Barandasi Mencari Keadilan kepada Pemkab Maros

KBRN, Maros : Lima pedagang Barandasi Kecamatan Lau Kabupaten Maros, Jumat (29/05/2020) mendatangi Kantor Kopumdag Maros.

Kelima pedagang yang terdiri dari H. Idrus Halik, Hasbiah, Hj Halimah, Hj. Annisa dan Hj Rusnah serta Fitri sengaja mendatangi instansi yang membawahi pasar tradisional, guna mempertanyakan keberadaan lokasi tempat mereka berjualan diduga telah dibongkar dan ditempati penjual lain.

Saat ditemui di kantor Kopumdag Maros, Hasbiah menceritakan kronologis permasalahan yang telah mengakibatkan dirinya beserta keempat pedagang lainnya dilarang berjualan di los yang telah puluhan tahun ditempati.

Ia menjelaskan awal permasalahan ini, dipicu dari perenovasian bangunan Pasar Barandasi, dimana para pedagang yang berjualan di los diminta pindah sementara. Dan setelah bangunan celar, maka para pedagang lama bisa kembali menempati los sesuai lokasinya.

"Ada bahasa yang kami terima secara lisan dari Kepala Pasar Barandasi dan salah seorang pegawai Kopumdag Maros bahwasanya apabila sudah direnovasi maka pedagang bisa menempati lokasi yang sama", jelasnya.

Hal yang sama dilontarkan Fitri, dimana menurutnya kami berlima dituding pihak-pihak yang berkompeten, tidak mematuhi peraturan bupati terkait aturan pemanfaatan pasar.

"Perbup yang dikeluarkan Pemkab Maros kami patuhi, terbukti kami menahan diri tidak berjualan. Ditambah lagi adanya kesepakatan antara kuasa hukum kami dengan Satpol PP, dimana sebelum digelar mediasi usai lebaran, tidak ada pihak manapun yang boleh berjualan. Namun saat kami melihat los tempat berjualan, ada pedagang lain yang berjualan dan barang yang kami simpan di los telah dirusak", tegas Fitri.

Lanjut Fitri, kami berlima hadir di kantor Kopumdag Maros ini, untuk mencari keadilan atas tindakan semena-mena yang diduga sengaja dilakukan oknum.

Kami berlima, ungkap Fitri tidak ngotot ingin menguasai los yang telah 20 tahun ditempati, namun lantaran adanya bahasa yang dilontarkan kepala pasar, hal ini yang kami tagih di kantor Kopumdag ini.

"Sebenarnya pak, kita ini tidak ngotot ingin jualan di depan maupun di sudut, cuma dari awal juga telah ada kata-kata yang terlontar dari pihak kepala pasar. Cuma tidak ada buktinya karena tidak ada perjanjian tertulis sehingga kami sudah membuktikan. Namun, kami memilik saksi hidup yang mendengar langsung bahasa kepala pasar itu" ungkapnya.

Sementara itu, kepala seksi sarana prasarana Kopumdag Maros, yuddin mengatakan keluhan para pedagang telah kami tampung. Namun permasalahan ini telah ditangani Satpol PP dan kepala UPTD pasar Barandasi dalam pengelolaan pasar.

"Seksi kami sendiri bertugas menyediakan sarana saja, sedangkan masalah pembagiannya ditangani otoritas kepala pasar dan diawasi kepala UPTD sebagai pengelola pasar kecamatan", jelasnya.

Masalah ini kata Yuddin, telah beberapa kali dibahas di Rapat Dengar Pendapat (RDP) dan kini berada di bawah pengawasan Satpol PP.

"Dan apabila ingin mengetahui lebih jauh atas masalah yang dialami ini, kami sarankan datangi Satpol PP, karena kami tidak mengetahui permasalahan yang terjadi menimpa kelima pedagang ini"urainya.

Ditempat terpisah via WhatsApp, kuasa hukum pedagang, Andi Asiz Masykur mengatakan kami telah mengadakan kesepakatan dengan Satpol PP dimana lokasi los yang bermasalah ini, akan dimediasi kembali seusai lebaran. Namun tiba-tiba kemarin, terjadi aksi pembongkaran tanpa melalui mediasi yang telah disepakati.

"Saya khawatir bahwa tindakan pembongkaran yang dilakukan itu, adalah tindakan anarkis dan pelanggaran HAM, karena telah ada kesepakatan antara saya selaku kuasa hukum dengan Satpol PP" tegas Asiz.

RDP yang akan kami ajukan kepada wakil rakyat Selasa depan, bukan untuk membahas masalah perbup, namun murni membahas masalah pengrusakan.

"Permasalahan pengrusakan ini, sebenarnya akan kami laporkan ke Polda Sulsel, namun kami mempunyai kebijakan dimana permasalahan ini kami selesaikan ke RDP saja" pungkasnya

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00