Kurang Bijak Bersosial Media, Ini Dampaknya

KBRN, Makassar : Co Founder dan CMO PT Wahana Kreatif, Ryan Hidayat menyebut banyak manfaat ketika seseorang aktif di media sosial di antaranya mendapat informasi aktual, berkomunikasi secara real time, memudahkan hubungan dengan pelanggan, meningkatkan trafik dan peringkat pencarian laman, membangun relasi secara cepat dan luas, serta menjadi sarana mendapatkan penghasilan tambahan.Namun begitu, ada dampak negatif yang timbul akibat kurang bijak dalam bermedia sosial. Dampak tersebut misalnya gangguan kesehatan seperti sakit mata, terpapar konten negatif dan pemberitaan hoaks, menimbulkan gangguan mental, mengganggu relasi di dunia nyata, hingga memicu kejahatan.

Dikatakan, untuk mengantisipasinya, warganet harus memahami apa yang boleh dan tidak dilakukan di media sosial, utamanya terkait komentar, kiriman, dan hak cipta seseorang.

"Ada kasus ketika pemilik karya menuntut kepada pemengaruh yang mengirim  foto atau ilustrasi tanpa menampilkan kredit pemilik karya. Hal ini dianggap hanya menguntungkan pemengaruh tersebut,” ujar Ryan dalam kegiatan Literasi Digital dengan tema 'Indonesia Makin Cakap Digital' yang diselenggarakan secara virtual, Jumat (18/06/2021).

Sementara itu, Penanggung Jawab Media Sosial www.kbr.co.id, Eka menyebut media sosial bukan catatan harian di mana orang bisa bebas mencurahkan perasaan.

Kebebasan berekspresi seseorang di dunia digital dibatasi oleh kebebasan orang lain. Terlebih, media sosial merupakan ruang publik yang dapat diakses siapa saja, sehingga perilaku dan aktivitas seseorang bisa diketahui orang lain."Dalam bermedia sosial harus selalu mengedepankan nilai integritas, profesionalisme, kesejawatan, kesantunan, dan etika profesi. Misalnya, seorang dokter yang aktif di media sosial, punya batasan seperti tidak boleh mengumbar data pribadi pasiennya,”  tutur Eka.

Selanjutnya, Dosen Jurnalistik Universitas Multimedia Nusantara Tangerang, Ignatius Haryanto beranggapan, bahasa yang baik diperlukan dalam bermedia sosial agar tidak menimbulkan kebingungan dan kesalahpahaman. Apalagi, dunia internet menghadapkan manusia dengan beragam manusia dengan latar belakang dan budaya berbeda.Untuk menjadi warganet yang bijak, perlu menahan diri dan bijak dalam berkomentar serta mengirim konten ke media sosial.

"Menggunakan bahasa yang kurang baik beresiko membuat bingung, salah paham, memicu konflik, dan bisa berakhir pidana karena Indonesia memiliki UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) serta pasal perbuatan tidak menyenangkan dalam KUHP," ujar Haryanto.Terpisah, Direktur Program dan Kemitraan Sikola Mombine 2021-2023, Fira Tiyasning Tri Utari, menuturkan setiap orang berkewajiban merawat masa lalu untuk masa depan yang cemerlang. Jejak digital warganet baik berupa konten foto, email, GPS, ataupun komentar merupakan rekam jejak yang bisa memengaruhi kehidupannya di masa depan.Oleh karena itu, setiap orang harus bisa meninggalkan jejak digital yang baik di dunia internet seperti aktivitas positif, kegiatan silaturahmi, media edukasi, ataupun kegiatan wirausaha.

"Kita harus memahami mana yang boleh dan tidak diketahui orang lain. Filter tersebut ada dalam diri kita masing-masing,” tutup Fira.Kegiatan Literasi Digital 'Indonesia Makin Cakap Digital' di Sulawesi akan diselenggarakan secara virtual mulai dari Mei 2021 hingga Desember 2021 dengan berbagai konten menarik dan materi yang informatif dari para narasumber terpercaya. Bagi masyarakat yang ingin mengikuti sesi webinar selanjutnya, informasi bisa diakses melalui https://www.siberkreasi.id/ dan akun sosial media @Kemenkominfo dan @siberkreasi, serta @siberkreasisulawesi khusus untuk wilayah Sulawesi.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00