Kaum Muda Rawan Disusupi Radikalisme

KBRN, Madiun  :  Semua negara di dunia sedang berperang melawan radikalisme dan terorisme karena besarnya  potensi  kerusakan yang ditimbulkan.  Radikalisme menyimpan bahaya besar karena menciptakan kekacauan dan teror, keresahan sosial, instabilitas politik, mengikis nasionalisme  dan berpotensi menciptakan disintgrasi bangsa.  Dan saat ini, radikalisme berkembang secara transnasional dan transreligi. Pasi Intel Kodim 0803 Madiun, Kapten Totok Langgeng pada Sosialisasi Integrasi Bangsa di Graha Eka Kapti Puspemkab Madiun, Kamis (12/11/2020) antara lain mengatakan,  orang yang radikal atau radikalis biasanya  sangat  memahami suatu ajaran secara mendasar sampai ke akar-akarnya sehingga teguh dalam memegang  prinsip.  Dan para radikalis itu, kata kapten Totok, kemudian berusaha mempengaruhi dan mengajarkan pahamnya kepada orang yang belum mengerti.

“ Ya kenyataan kalau sudah mengerti, dia mempengaruhi orang-orang yang tidak tahu menahu ataupun tidak menguasai apa yang akan dilaksanakan", katanya.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi seperti smartphone dengan berbagai aplikasi media sosial bisa menjadi sarana ampuh untuk menyebarkan faham radikalisme, jika pemegang smartphone tersebut tidak bijak menggunakannya.  Pengguna smarphone yang rata-rata masih berusia muda yang sedang mencari jatidiri bagai lahan subur untuk menanamkan  radikalisme, terlebih jika mereka belum memiliki pemahaman agama yang cukup. Oleh karena itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik dalam Negeri (Bakesbangpoldagri) Kabupaten Madiun, Sigit Budiarso berpesan kepada kaum muda yang akan masuk ke  perguruan tinggi untuk berhati-hati dalam memilih organisasi dan kegiatan  kemahasiswaan. Hal itu, menurut Sigit, karena banyak perguruan tinggi yang telah disusupi para pengusung radikalisme.

“Pandai dan bijaklah dalam memilih teman dan memilih organisasi. Ketika panjenengan nanti masuk ke tataran mahasiswa, banyak sekali pilihan organisasi  yang memang mereka bertujuan untuk merekrut panjenengan semua agar masuk dalam gerakannya.  Banyak sekali radikalis yang menyusup ke organisasi pelajar dan mahasiswa. ”, kata Sigit.

Bahkan katanya, sejumlah perguruan tinggi favorit di Indonesia juga telah disusupi faham radikal yang berusaha merongrong pemerintahan yang sah dan  kedaulatan negara. Ia berpesan kaum muda untuk lebih memahami Pancasila yang menjadi dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Sosialisasi Integrasi Bangsa  sebagai upaya mengantisipasi perkembangan paham radikal, berita hoaks dan penyalahgunaan narkoba diikuti sekitar 50 peserta dari kalangan LSM, pelajar dan mahasiswa  di Kabupaten Madiun.  (Haryo)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00