Sejarawan Muda Kota Pecel Bicara Sejarah RRI Madiun

KBRN Madiun : Radio Republik Indonesia (RRI) didirikan pada 11 september 1945 dibentuk oleh Abdul Rahman Saleh dan Moehammad Joesoef Ronodipoero.

Sejarawan muda Madiun, Septian Dwita Kharisma kembali menceritakan sejarah dan perjuangan RRI Cabang Madiun.

Di Madiun, Radio Republik Indonesia (RRI) Cabang Madiun berdiri pada 17 Mei 1946, namun ada sumber lain mengatakan RRI berdiri pada 1 April 1946 yang ditandai dilantiknya pengurus Pertama RRI Cabang Madiun. RRI cabang Madiun saat itu kantornya terletak di jalan Raya nomor 52 yang sekarang menjadi Jalan Pahlawan Kota Madiun. 

"Hasil diskusi saya dengan kerabat sejarawan Madiun lainnya bang Andrik Suprianto, bahwa RRI menempati bekas tempat Ibadah / loji Kaum Theosophy yang pernah eksis di Madiun di Era Kolonial Belanda," ungkap Septian, Minggu (12/9/2021).

Loji Theosophy dipilih sebagai Kantor RRI Cabang Madiun karena loji tersebut cukup luas dan besar sehingga cocok untuk dibuat sebagai stasiun Radio. 

Peralatan Radio RRI cabang Madiun berasal dari rampasan pasukan Jepang. Saat itu Kapten Niti Hadisekar menjabat Kepala Jawatan Perhubungan Magetan, mengambil tanggung jawab untuk mengumpulkan peralatan komunikasi dan radio milik pasukan Jepang di Gua Nitikan Kabupaten Magetan bersama Pasukan dari Dinas Genie Markas Besar Tentara Keamanan Rakyat (TKR / TNI sekarang). 

"Setelah Peralatan Radio dan komunikasi tersebut dikumpulkan dan diambil alih oleh Republik dari tangan Japang, Para pemuda mulai merakit alat-alat tersebut untuk dijadikan Radio dan alat Pemancar untuk siaran di RRI Cabang Madiun," ulasnya.

Ketika Agresi Militer Belanda ke-dua, pada 18 Desember 1948. Madiun jatuh ditangan penjajah Belanda pada 19 Desember 1948. 

Jatuhnya Madiun ditangan Belanda membuat tentara, pegawai pemerintahan sipil lokal, termasuk Jawatan RRI Cabang Madiun pindah ke pedalaman Madiun tepatnya di kaki gunung wilis Kabupaten Madiun. 

Di kaki Pegunungan wilis tersebut para gerilyawan membangun pemerintahan dan kantor darurat serta membangun kantong-kantong gerilya.

Pegawai RRI memindahkan alat siarannya dari kota ke desa Kandangan, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun dalam upaya membentuk Kantor Radio darurat RRI atau Call Stasiun Radio Gerilya Rakyat, meski letaknya di pegunungan. 

"Call Stasiun Radio Gerilya Rakyat di desa Kandangan tersebut masih bisa melakukan siaran karena Kantor tersebut menggunakan Generator listrik milik pabrik Kopi desa Kandangan," papar Septian.

Selama di daerah gerilya di Pegunungan Wilis kabupaten Madiun, Call Stasiun Radio gerlya Rakyat turut melakukan perjuangan dengan cara melakukan siaran pidato dan warta Berita. 

"Siaran-siaran tersebut, di isi oleh para petinggi militer dan petinggi pemerintahan sipil di kantong-kantong gerilya pegunungan Wilis seperti Kolonel Muhammad Jasin (Perwira Brimob Jawa Timur), Residen Madiun Pamudji hingga Gubernur Jawa Timur Samadikun dan lain-lainnya," beber juara kedua penulisan sejarah lokal Jawa Timur tahun 2021 ini.

Septian menceritakan Pidato dan siaran warta berita itu ditujukan kepada Rakyat Madiun yang sedang dibawah kekuasaan Tentara Belanda, bahwa Indonesia tidak jatuh ditangan Belanda. 

Disamping itu, Radio darurat RRI dikawasan gerilya di Pegunungan Wilis tersebut, juga melakukan kegiatan Hubungan Telegrafie dengan stasiun RRI lain di daerah-daerah terutama dengan "RI Press" untuk menginformasikan kabar-kabar terkini soal kondisi Republik Indonesia dan Komunikasi antar wilayah. 

Sementara itu Pegawai-pegawai RRI yang berada di Kota Madiun, daerah yang diduduki oleh Belanda, mereka menjadi Tim support. Yaitu menjadi imforman, kurir dan pengirim kebutuhan logistik dari kota ke Daerah kantong gerilya.

Ketika Agresi militer Belanda ke-lI berakhir, para gerilyawan keluar dari kantong gerlya, mereka kembali ke kota untuk aktivitas kembali. RRI cabang Madiun melakukan kembali aktivitas di Studio Radio miliknya di Jalan Pahlawan Kota Madiun.

Septianpun berharap sejarah panjang berdirinya RRI Madiun dapat menjadi refleksi bagi segenap masyarakat, terutama para insan yang saat ini mengabdi di RRI. Sebagai lembaga yang benar-benar mengemban amanat dan kepentingan rakyat.

"Demikian sejarah dan perjuangan RRI Madiun di era Kemerdekaan Indonesia, tulisan ini sengaja saya buat dan sampaikan untuk memperingati ulang Tahun RRI, khususnya RRI Madiun. Sebenarnya saya tulis tanggal 10 kemarin sebelum hari H, namun karena satu dan lain hal baru saya tulis kembali" ujarnya.

"Dirgahayu Radio Republik Indonesia (RRI) Ke 76 tahun, "Sekali Di Udara tetap di udara", pekik Septian penuh semangat.

#sejarahMadiun #TjahNjero #sejarahRRI #SejarahMadiunRaya#HistoriaVanMadieon

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00