FOKUS: #TATANAN KEHIDUPAN BARU

Selamat Datang di Tatanan Kehidupan Baru, Sudah Siap?

KBRN, Madiun: Tatanan kehidupan baru (new normal) merupakan sebuah istilah dalam bisnis dan ekonomi yang merujuk pada kondisi-kondisi keuangan usai krisis keuangan 2007—2008, resesi global 2008—2012. Sejak itu, istilah tersebut dipakai pada berbagai konteks lain untuk mengimplikasikan bahwa suatu hal yang sebelumnya dianggap abnormal menjadi umum (normal).

Saat ini, wabah covid-19 memaksa setiap orang melakukan suatu hal yang sebelumnya dianggap tidak biasa atau abnormal menjadi sesuatu yang normal. Kenormalan baru dirasa perlu dilakukan mengingat terhentinya aktivitas disegala sektor menimbulkan dampak yang sangat besar jika terus dilakukan. Sementara hilangnya virus belum dapat diprediksi.

Beberapa pertimbangan pro kontra mewarnai rencana penerapan kenormalan baru. Pihak-pihak yang menyoroti masalah ekonomi dan pelayanan publik mendukung hal ini. Namun ada pula sisi-sisi kekhawatiran yang menjadikan pihak lainnya kontra terhadap kebijakan kenormalan baru (new normal).

Pada prinsipnya, kenormalan baru harus dilaksanakan dengan protokol keselamatan yang ketat. Dibidang bisnis jasa dan retail misalnya, protokol seperti pembatasan pekerja dan pelanggan, jarak minimal tempat duduk (posisi) antar pekerja serta pembayaran non tunai harus dipenuhi.

Seorang karyawan jasa ekspedisi, Ian Rangga menceritakan kondisi kenormalan baru di lokasi kerjanya salah satunya tanda silang setiap selang 1 kursi.

“Di counter depan kita kasih silang-silang biar jaga jarak, teman-teman sales counter pakai masker sama kaca mata yang kaya helm bogo itu. Juga di thermo gun di bagian security. Ada wastafel di kantor maupun di gudang serta hand sanitizer dan air sanitizer. Armada-armada kita di garasi juga disemprot disinfektan, truk dari Surabaya, Solo, Kediri yang dari dan ke kantor cabang semua disemprot,” kata Ian, Jumat (12/6/2020).

Meski demikian, ia masih sangsi apabila kenormalan baru ini langsung diterapkan tanpa sosialisasi yang matang mengingat kepatuhan sebagian masyarakat dinilai masih rendah. Ditambah lagi masih ada oknum yang mengambil keuntungan diatas penderitaan.

“Masker dan hand sanitizer saja sempat ada yang ditimbun dan kasus-kasus lainnya. Padahal di new normal orang akan bekerja kembali, sekolah akan masuk lagi, dan beberapa tempat akan ramai lagi. Maka kebersihan dan keselamatan harus ditingkatkan. Mending diedukasi dulu, new normal itu apa dan bagaimana biar masyarakat paham apa yang akan dilakukan ketika new normal dilaksanakan,”pungkas Ian Rangga.

Senada dengan Ian Rangga, seorang karyawan BUMN di Ponorogo Martin Meha mengaku bahwa kenormalan baru sudah berhasil diterapkan di tempat ia bekerja. Namun, Martin yang juga terjun di dunia seni dan hiburan merasa belum yakin dengan pembukaan tempat hiburan jika jumlah tes atau surviellance belum memenuhi target yang ditetapkan WHO yakni 10-12 ribu per hari.

“Menurut saya pribadi saya belum siap dan belum setuju new normal dilaksanakan. Karena mohon maaf dilihat dari yang terjadi saat ini, masih banyak masyarakat yang sembrono melanggar peraturan pemerintah. Dibatasi aja seperti itu, apalagi bayangkan kalau tidak dibatasi,” ujar Martin.

Ia melanjutkan, “Martin selain jadi karyawan juga mencari nafkah di dunia hiburan nyanyi dari panggung ke panggung. Nanti kalau dunia hiburan dibuka, yang bikin deg deg an nya itu karena kita harus berkecimpung dengan orang banyak. Sehat atau tidaknya kan kita tidak tahu. Takutnya membahayakan diri sendiri.”

Disisi lain, menurut Martin dengan dimulainya kenormalan baru ini dapat mengembalikan kesempatan kerja para seniman dan pekerja di dunia seni dan hiburan.

“Tapi Martin juga harus mengakui bahwa banyak teman-teman saya yang murni musisi jadi mencari nafkah utamanya dari bidang itu, kalau diperlama proses new normal ya kasihan juga musisi-musisi tersebut,”

Optimistis disuarakan Karisma Winas seorang marketing salah satu merk gawai kenamaan. Karis menilai roda ekonomi harus segera berputar. Pemanfaatan teknologi menjadi salah satu kunci menghindari kontak fisik sebagai salah satu kenormalan baru yang mulai dipahami oleh masyarakat luas.

“Kalau menurut saya seharusnya Indonesia siap menerapkan new normal karena perekonomian harus tetap berjalan, pelayanan publik juga harus dibuka, anak-anak membutuhkan sekolah beraktivitas layaknya normal. Kalau tetap jaga jarak, mematuhi protokol kesehatan saya rasa bisa. Lalu menurut saya kalau dari sektor bisnis dan retail itu tidak ada masalah sih karena jaman sekarang pembelian produk itu bisa lewat online tanpa harus ke toko. Kalaupun harus ke toko sudah disiapkan semuanya. Yang terpenting kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan dan kebersihan,”kata Karisma.

Hidup ditengah pandemi telah membuat banyak kebiasaan lama berubah menjadi kebiasaan baru. Namun jika dicermati, inti dari menghadapi kenormalan baru adalah kita harus saling menjaga. Penyedia jasa dan retail menjaga keselamatan konsumennya begitupula sebaliknya. Negara menjaga keselamatan rakyatnya dan semoga sebaliknya.

Hani Fadilah – RRI Madiun.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar