Pergerakan Mahasiawa Kelompok Cipayung: Mahasiswa Kawal Toleransi!

KBRN, Madiun: Gerakan Mahasiswa se-Indonesia tahun 1972 yang kemudian lebih dikenal dengan kelompok Cipayung, hingga saat ini tetap menunjukan eksistensinya, bahkan menjadi kelompok Cipayung plus, dan keberadaanya menyebar hingga daerah-daerah seperti kota Madiun.

Kelompok Cipayung terdiri dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Perhimpunan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia (PMKRI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Kesatuan Mahasiswa Hindu Darma Indonesia (KMHDI), dan Himpunan Mahasiswa Budhis Indonesia (Hikmahbudhi). Diantara anggota organisasi Mahasiswa yang berlatar belakang agama, suku dan perguruan tinggi yang berbeda, berkomitmen pada kesepakatan Cipayung, bahwa budaya toleransi dan musyawarah mufakat adalah watak dari Indonesia yang di cita-citakan.

Presidium pengurus pusat PMKRI Rinto Namang mengungkapkan, budaya toleransi yang telah disepakati sebagaimana dicetuskan oleh kelompok Cipayung tahun 1972, saat ini perlu direaktualisasikan.

“Pertama kita harus menyadari Indonesia itu bangsa yang bhineka, dari perbedaan itu baru kita bicara bagaimana merajut tenun kebangsaan. Tanpa menyadari kita berbeda sebagai sesuatu yang given dari Pencipta, kita tidak akan bisa mewujudkan persatuan”, ungkap Rinto. Lanjutnya, “soal toleransi, kita lihat kalau misal terjadi beda pendapat, orang sering sekali tersulut bakar sana bakar sini padahal sebenarnya budaya kita adalah budaya tabayyun. Kalau ada yang salah kenapa kita ga ngobrol, maka saya pikir mulai sekarang mari kita membangun soal musyawarah mufakat, untuk Indonesia yang lebih baik”.

Dalam waktu dekat mereka berencana menggandeng berbagai unsur termasuk pemerintah dan masysarakat agar kembali memaknai lebih dalam perihal kebhinekaan dan nasionalisme yang kini mulai terdegradasi, salah satunya melalui seminar kebangsaan.

Pengurus HMI Madiun, Hendra Setiawan berharap semua kelompok masyarakat dari berbagai latar belakang sosial apapun semakin sadar akan pentingnya perkumpulan dan forum diskusi yang senantiasa mengedepankan isu keberagaman, kebhinekaan, toleransi dan kemanusiaan.

“Kehadiran teman-teman disini memberikan stimulus kepada masyarakat Indonesia yang saat ini sedang diserang (oleh isu) rasisme. Ini lho pemuda yang tidak begitu mementingkan apa latar belakang kami, kita disini menjalin silaturrahmi dengan baik.” kata Hendra.

Sebagai penutup, Ketua PMKRI cabang Madiun Krisna Widodo mengajak seluruh elemen untuk mengingat kembali jati diri bangsa Indonesia.

“Saya katakan “siapa saya” itu bukan hanya makna sebuah nama tapi dalam makna yang lebih luas siapa saya itu (harus dijawab) we are Indonesia, kita adalah Indonesia membangun persaudaraan. Karena kita tahu banyak perbedaan maka itu kita harus berdialog dan berdinamika”, tegas Krisna.

Tak kenal maka tak toleran, untuk itu kesempatan untuk saling mengenal dan bekerja sama adalah kesempatan yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin oleh berbagai pihak. Gerakan mahasiswa, salah satunya yang tergabung dalam kelompok cipayung sedianya dapat menjadi acuan bahwa harusnya tidak ada kekhawatiran untuk bersama meski berbeda. Jika perbedaan masih menyisakan perdebatan, maka bhineka tunggal ika menjadi kehilangan arti. Sudah menjadi garis Tuhan, manusia diciptakan berbeda dan beragam untuk saling mengenal dan melengkapi. Hani Fadilah – Tedy Ardiansyah RRI Madiun untuk Indonesia Lebih Bertoleransi.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar