Tetap Rukun, Meski Berbeda Keyakinan

KBRN, Ngawi : Istimewa, itulah diantara kata yang tersirat di hati saat melihat pemandangan langka. Berbeda, tetapi tetap sinergi dan rukun. Dua bangunan yang menjadi pusat dua keyakinan yang berbeda, kokoh berdiri bersebelahan di jalan dokter Sutomo Ngawi. Dua Bangunan itu yakni Masjid Darul Jannah dan Gereja Utusan Pantekosta di Indonesia.

Pendeta Insulinda  Suwarto dari Gereja Utusan Pantekosta di Indonesia Ngawi mengakui bertahun-tahun kerukunan terus terjaga meski berbeda keyakinan. Pendeta Insulinda berharap kerukunan antar umat beragama tetap terjaga selamanya. Ia menyakini, meski berbeda tapi tujuannya sama.

“Di gereja ini saya dan Suami meneruskan Ibu dan bapak almarhum yang pendeta di gereja Pantekosta ini. Jadi kami saling menghormati, menghargai umat beragama satu dengan lain. Dan saling mendukug bila ada kegiatan. Misalnya, saat latihan music biasanya hari jumat jam 18.00, tapi selama Ramadan kami melakukan lathan music setelah jamaah masjid selesai tarawih” kata Insulinda(17/5/2019)

Disisi lain, Pengurus Masjid Darul Jannah yang juga marbot Ahmad Samidi mengatakan hal yang sama. Kerukunan antar agama di lingkungan itu telah berlangsung lama. Satu dengan yang lain saling menjaga toleransi.

Ahmad Samidi mencontohkan seperti Ramadan ini, jemaat gereja biasanya latihan musik sejak sore hingga malam hari. Namun selama ramadan, latihan musik dilaksanakan pada malam hari setelah jemaah masjid selesai tarawih. Tidak hanya itu, diakuinya suara musik yang terdengar juga tidak keras karena gereja telah diberi peradam suara. Pada kegiatan halal BI halal juga diikuti semua warga Muslim maupun non muslim, termasuk pihak gereja.

“Alhamdulillah disini tidak ada masalah, saling menyadari, misal disana (gereja) ada acara kadang sini (masjid) diundang. Contoh acara halal bi halal, pengurus gereja juga diundang dan mau datang” kata Ahmad Samidi.(17/5/2019)

Orangtua Pendeta Insulida, Suwarto yang juga sebagai pendeta mengatakan Gereja Pantekosta dibangun lebih dahulu sekitar tahun 1985. Sedangkan masjid baru dibangun beberapa tahun kemudian.

Sebelum membangun masjid, warga setempat juga memberi tahu dan Suwarto menyambut baik niat itu serta tidak ada rasa berat hati. Bahkan Suwarto merelakan sebagian tanah Gereja untuk digunakan akses warga menuju masjid, agar warga tidak melalui jalan memutar.

“Yang dibangun pertama adalah gereja, tetapi kemudian orang-orang ingin membangun masjid dan bersebelahan. Apa keberatan ? saya bilang tidak, kita kan jalan sama-sama. Jadi tidak ada keberatan sama sekali. Jadi kita harus baik-baiklah melakukan tugas-tugas kita. Tapi jangan ada kebencian dan perselisihan faham.” kata Suwarto(17/5/2019)

Kerukunan dan toleransi itu tidak tertulis, tapi tertanam di masing-masing hati sanubari takmir masjid maupun jemaat gereja. Kerukunan dan saling menghormati menjadi kunci terjalinnya rasa persaudaraan, kebersamaan ditengah keberangkatan, dan model utama terjaganya Negara Kesatuan Republik Indonesia.(Malik)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar