Boyong Kedhaton Sukowinangun, Sarat Petuah Melimpah Berkah

KBRN, Magetan: Kirab boyong kedhaton Sukowinangun berlangsung meriah, Minggu (7/8/2022). Pasukan kirab berangkat dari rumah Lurah Sepuh Eyang Sumo Sanjoyo (lurah pertama) jalan Yos Sudarso menuju balai kelurahan Sukowinangun jalan Kunti atau Selatan Pasar Sayur. Dalam kirab tersebut diboyong sejumlah warisan pusaka lurah sepuh antara lain keris, tombak dan songsong (payung) serta replika kentongan.

Bupati Magetan, Suprawoto menegaskan pusaka yang dikirab tidak diartikan sebagai pengultusan namun sebagai pengenalan budaya serta pelestarian tradisi. Terlebih, keseharian masyarakat Jawa kental akan filosofi.

“Anak sekarang kalau ditanya keris itu apa, pasti enggak ngerti. Ini dikirab maksudnya agar masyarakat membicarakan apa itu boyong kedaton, pasti nanti cari di google keris itu apa, tombak itu apa, itu sebenarnya trigger,” beber Suprawoto.

Suprawoto menambahkan kepemimpinan di Jawa sebelum masa demokrasi biasanya karena pulung (pilihan) serta dituakan. Tutur kata dan tindakan pemimpin akan dicontoh masyarakatnya sehingga simbol perlindungan dan pengayoman diwujudkan dalam bentuk pusaka.

“Lurah, kalau jaman dulu seumur hidup maka orang dulu itu memilih betul bahwa lurah yang bisa melindungi rakyatnya ditandai dengan payung. Tombak itu artinya lurah harus punya piandel (memegang kepercayaan warga),” lanjutnya.

Hal ini dikuatkan dengan pengalaman pribadi anak cucu Lurah Sepuh Eyang Sumo Sanjoyo yang meski saat ini bekerja di sektor modern namun tetap memegang warisan luhur Jawa. Menurut Nonna dan Ninna, nilai kepemimpinan yang ditunjukkan kakek dan ayah mereka tetap diingat dan diterapkan untuk mengomandoi perusahaan mereka masing-masing.

“Saya Ninna kerja di Swedish company bagian HR, coverage area saya 15 negara. Nilai-nilai kepemimpinan yang beliau kasih ke kita itu kita pakai di perusahaan. Itu ditanamkan dari dulu bahwa pemimpin itu bukan bos tapi mengayomi rakyatnya, mengayomi timnya,” kata Ninna.

Sementara menurut Nonna, kakak Ninna kepemimpinan yang ditunjukkan kakek dan orang tuanya adalah pemimpin merupakan pelayan masyarakat.

“Saya Nonna COO. Jadi kita sudah biasa melihat bagaimana bapak ibu memimpin, itu unconsiously sudah tertanam di kita. Intinya tidak boleh cuek sama orang, justru sebagai pemimpin itu harus serving (melayani),” sahut Nonna.

Pemerintah kabupaten Magetan mendorong seluruh pihak untuk mengemas berbagai agenda menjadi pertunjukkan agar dapat menjadi peluang ekonomi bagi warga. Lurah Sukowinangun, Sucipto mengaku agenda kirab merupakan inisiasi warga agar tujuan tersebut tercipta. Warga pun membaca peluang dengan mengisi stan UMKM yang disediakan di tepian jalan Kunthi.

“Boyong Kedaton ini murni idenya masyarakat, anggarannya pun swadaya masyarakat. Yang jelas dengan adanya boyong Kedaton ini sangat meningkatkan ekonominya mereka. Pedagang-pedagang itu baik yang di Yos Sudarso sampai jalan Kunti ini milik atau binaan sukowinangun,” papar Sucipto.

Semarak kirab boyong kedhaton Sukowinangun bak pepatah sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Upaya pelestarian budaya dan perputaran roda ekonimi dapat dilakukan dalam sekali waktu.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar