Serekan Reyog Gagrak Magetan, Lestari atau Mati?

KBRN, Magetan: Sedari mentari menghangat ratusan warga desa penghasil susu di Magetan, Singolangu, sudah memadati titik kumpul yang berada di barat sebuah SD. Para warga berbusana kebaya bak tertarik magnet yang begitu kuat. Dipusat titik kumpul sayup-sayup terdengar alunan kendang serta terompet reog. Rupanya akan ada pagelaran goser, goyang serekan, pada Sabtu (25/6/2022) pagi.

Serekan, bagian dari tarian saat pagelaran Reog Ponorogo, akan ditarikan massal dipandu oleh pelestari reog desa setempat, Mbah Darmo Sabar yang hampir seluruh hidupnya dihabiskan untuk menggeluti tarian serekan ini. Meski telah berusia 83 tahun namun mbah Darmo Sabar masih sangat lihai menarikan tarian yang menirukan gerakan dari hewan merak, seperti pembarong dadak merak.

Ada sedikit kekhawatiran di hatinya. Akankah reog serekan akan hilang ditelan masa?

“Saya mulai ng reyog tahun 1960, dapat alat tahun 1970. Susahnyanya itu cari alat sama regenerasi, itu sedikit sedikit alatnya, sekarang suadah pada rusak. Untuk menarik minat anak muda harus punya alat yang bagus, ini alatnya pinjam semua yang saya punya sudah tepo rusak semua,” ujarnya.

Setidaknya ada setets embun membasahi dahaganya, sekelompok mahasiswa Universitas Negeri Surakarta (UNS) dengan gagasannya menggerakkan warga. Sehingga para warga bukan hanya tahu serekan namun juga ikut berjoget serekan. Bahkan giat tersebut diberi sentuhan internasional dengan pemilihan kata ‘flashmob’ sebagai tajuk acara.

Kepala Prodi Kominukasi Terapan Sekolah Vokasi UNS Joko Suranto mengaku bangga menjadi bagian dalam pengenalan goyang seregan yang merupakan tari khas dari kesenian reyog Ponorogo gagrak Magetan.

“Seregan ini khas Singolangu, peran mbah Sabar itu sangat ikonik. Mbah Sabar itu seregan, seregan itu Singolangu, Singolangu itu Sarangan dan Sarangan itu Magetan,” katanya.

Tua-muda, pria-wanita, tumplek bleg di lapangan Singolangu. Menari bersama dengan wajah gembira. Meski sesekali juga tampak raut wajah bingung karena tidak setempo dengan Mbah Darmo Sabar. Salah satunya mbah Waginem yang sehari-hari menjadi peternak sapi. Menari bersama, hal yang tidak biasa ia lakukan, ternyata menggembirakan.

“Setiap hari mencari rumput sapi 4 yang 2 perah dan yang 2 brahman. Sebelumnya tidak pernah nari, belajarnya 10 hari bisanya karena belajar,” katanya.

Bagi mbah Darmo Sabar, serekan menjadi bagian hidup yang membuat tetap aktif meski telah berusia senja. Bagi mbah Waginem dan seluruh warga Singolangu, serekan menjadi harapan agar kampungnya semakin khas, dikenal, dikunjungi dan sejahtera. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar