Sejuk Yang Hangat, Upacara Galungan Di Wonomulyo Sarat Makna Persatuan

KBRN, Magetan: Awal Mula Peringatan Haul Lahir Dan Wafatnya Pembabat Alas

Di Indonesia, secara umum, upacara galungan identik dengan agama Hindu dimana hari tersebut menjadi hari kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kejahatan). Namun di sebuah dusun kecil di ketinggian 1.000 mdpl gugusan gunung Lawu Magetan, Jawa Timur, upacara tersebut bukan menjadi peringatan keagamaan melainkan momentum doa bersama lintas agama guna mengenang dan menghormati cikal bakal dusun tersebut.

Wonomulyo atau sekarang dikenal juga sebagai Nepal Van Magetan ini berdasarkan cerita tetua setempat, Mbah Jono, dahulu dibabat oleh Ki Hajar Wonokoso, salah satu prajurit Brawijaya V yang bersembunyi dari kejaran prajurit Demak. Hutan belantara di Lawu sisi Selatan perlahan berpenghuni dan mejadi tempat tinggal keturunan Ki Hajar Wonokoso yang lahir dan wafat pada Selasa Wage wuku Galungan dalam penanggalan Jawa dan berwasiat agar di setiap tanggal tersebut diperingati. Tahun ini, acara tersebut digelar pada Selasa (7/6/2022) malam.

“Eyang Ki Hajar wonokoso itu lahirnya wuku galungan hari Selasa Wage. Ajalnya atau wafatnya juga wuku galungan hari Selasa Wage. Maka itu dijadikan hari-hari sakral oleh warga masyarakat Wonomulyo,” papar mbah Jono.

Toleransi Antar Umat Beragama

Hal menarik yang tergambar dari gelaran galungan di Wonomulyo adalah guyub rukun seluruh warga tanpa membedakan latar belakang agama. Hampir seluruh warga dusun Wonomulyo berduyun menuju makam. Kerukunan beragama tersebut mendapat apresiasi dari Bupati Magetan, Suprawoto. Suprawoto bahkan menyebut sikap warga Wonomolyo merupakan pengamalan pancasila yang dapat dicontoh oleh daerah lain.

"Masyarakatnya dari berbagai agama ada Hindu, Budha, ada Islam tapi semuanya guyub rukun. Ini menunjukkan bahwa toleransi di dusun yang paling tinggi di Magetan ini sangat luar biasa, patut dicontoh. Dan ini tradisi yang sudah turun temurun dilestarikan oleh warga di sini," kata Bupati Suprawoto dalam sesi wawancara usai acara galungan, Selasa (7/6/2022).

Selain guyub rukun, masyarakat Wonomulyo merupakan masyarakat yang ramah. Tak jarang perlengkapan (ubo rampe) yang konon menjadi wasiat yang diteruskan turun temurun berupa kelapa, gula merah dan pisang itu ditawarkan kepada pengunjung yang datang menyaksikan jalannya upacara. Selain itu, hidangan makanan kesukaan Ki Hajar Wonokoso yakni tumpeng nasi jagung, panggang tempe, pelas kedelai dan sayur ares dibagi merata kepada seluruh tamu yang hadir dalam selamatan.

Negeri Di Atas Awan

Dusun Wonomulyo merupakan dusun kecil yang berada di desa Genilangit kecamatan Poncol. Dusun dengan topografi pegununungan tersebut harus ditempuh dengan kendaraan yang prima sebab satu-satunya akses menuju Wonomulyo cukup memacu adrenalin, menanjak dan berkelok tajam. Namun setiba di dusun tersebut, rasa gemetar akan terbayar dengan pemandangan negeri di atas awan.

Tak ayal dusun yang semula bernama Jeblok tersebut, dinamai dari kondisi tanah yang sangat becek saat hujan, kini jadi tujuan wisata. Bahkan Desa Wisata Genilangit menjadi salah satu dari tujuh Finalis Desa Wisata Berbasis Alam pada Desa Wisata Awards yang diadakan Kemenparekraf tahun 2021.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Magetan, Joko Trihono menyebut Wonomulyo berpotensi menjadi wisata sejarah dimana pada area hutan banyak ditemukan arca maupun fondasi bangunan kuno. Juga berpotensi menjadi lokasi wisata minat khusus yang menyuguhkan atmosfir ketenangan. Sejauh ini terdapat fasilitas gubug bagi pengunjung yang ingin bermeditasi. Serta beberapa warga telah membuka rumah mereka menjadi homestay.

“Ini ada peran juga dari bu Sasa (anggota DPRD Jawa Timur) kemarin menyiapkan salah satu sudut di belakang vihara ini. Di dalam upaya pengembangannya mungkin tidak banyak mengubah karena di sini lebih alami sehingga jika ada yang ingin melakukan meditasi atau perenungan cukup di pendopo itu. Jika ingin menginap beberapa warga desa ini menyediakan rumahnya untuk homestay, sudah didesain seperti itu,” ungkap Joko.

Kata kunci ‘kekompakan’, ‘kebersamaan’, ‘kerukunan’ dan ‘toleransi’ terpancar dari wajah warga Wonomulyo. Tanpa rasa yang bermuara pada kesadaran saling memiliki tersebut bisa jadi Wonomulyo masih menjadi hutan belantara yang penuh kubangan kala turun hujan. Maka memelihara rasa itu akan menjadikan desa di kaki Lawu semakin berkembang dan sejahtera.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar