Santi si Suzzanna dan Kebun Emas: Kisah Ladang Mawar Setengah Hektar

“Saya biasa lho makan bunga mentah ini, saya cemil. Rasanya sepet-sepet harum. Kata teman-teman saya, saya itu Suzanna,” ucap Shanti mencairkan perjumpaan dengan RRI Madiun di ladang mawarnya.

Kebiasaan Makan Kembang hingga Ide Mawar Setengah Hektar

KBRN, Magetan: Jika kesan seram sangat melekat dengan bintang film horror, Suzzanna, berbeda dengan Shanti. Meski sama-sama memiliki hobi makan kembang, pemilik nama lengkap Shanti Rochmatin ini jauh dari kehororan. Ibu 2 anak ini justru nampak lemah lembut dengan sorot mata penuh optimisme dan ide cemerlang.

Bagaimana tidak, ide mengubah setengah hektar kebun sayur miliknya menjadi kebun mawar bukan ide yang masuk akal, awalnya. Bukan pula keputusan yang mudah, terlebih di tahun pertama. Namun keyakinannya tetap teguh, menjadikan daerah yang dinamai oleh para leluhur dengan sebutan “sekar gadhing” menjadi kenyataan.

“Awalnya banyak yang mencemooh dan membicarakan, ‘kok tegalan di tanami mawar, arep dadi opo (jawa: mau jadi apa)’. Tapi kita tetap positif dan yakin bahwa kita bisa mendapat hasil yang luar biasa dari tanaman ini. Tahun-tahun pertama kita berjuang karena kesulitan menjual, harga tengkulak pun sangat rendah waktu itu,” kata ASN guru di SMAN 3 Magetan ini.

Sekar berarti bunga dan gadhing berarti emas (red: pada masanya gading menjadi salah satu barang berharga serta menjadi hiasan). Unen-unen (petuah) orang tua terdahulu ini terbukti dengan hasil mawar yang bisa dipanen setiap hari. Per hari, kebun mawar jenis Rose Santana milik Santi dapat menghasilkan 30-40 tenggok (wadah dari anyaman bambu, biasanya digendong untuk membawa barang) atau sekitar 1-1,2kg.

Di hari biasa bunga mawar dihargai 30-50ribu rupiah per tenggok. Sementara di momen besar seperti bulan Ruwah (Sya’ban) dan Pasa (Ramadhan) harga mawar dapat mencapai 150-200ribu rupiah per tenggok. Artinya 900ribu-2juta rupiah omset harian yang dapat diperoleh Santi dihari biasa sementara di hari besar sekitar 4,5-8juta rupiah. Omset tersebut dikurangi upah 8 pekerja sekitar 400ribu dihari biasa atau 800ribu di hari besar.

Mawar Sidomulyo Semakin Dikenal

Pemberitaan mengenai produksi mawar desa Sidomulyo, khususnya di perkebunan Swargaloka, memang mulai muncul sejak 2 tahun belakangan hanya saja sebatas pemberitaan terkait peningkatan omset penjualan bunga tabur. Titik balik meningkatnya perhatian publik terhadap mawar Sidomulyo justru terjadi pada awal pandemi. Kala itu masyarakat dilarang melakukan aktifitas mudik sehingga produksi mawar terlampau tinggi namun tidak diimbangi dengan permintaan pasar. Dari kondisi tersebut, muncullah ide-ide pengolahan kelopak mawar sebagai produk makanan, kosmetik dan obat-obatan.

“Kembali ke masa pandemi itu, produksi masih melimpah, mau saya apakan bunga mawar ini kalau dijual segar agak kesulitan dan tidak bisa bertahan lama. Pernah saya masukkan freezer jadi membiru dan rusak. Lalu saya punya ide mengolah mawar, pertama coba-coba buat keripik untuk teman-teman saya. Mereka tahunya seperti bawang goreng, katanya enak, kemudian mereka bertanya ‘ini apa?’, saya bilang ini bunga mawar dan mereka protes ‘aku kamu jadikan Suzanna?’ mereka takut makan bunga,” lanjutnya sambil tertawa mengenang ekspresi rekan-rekan guru yang telah mengunyah bunga bak Suzzanna.

Bertolak dari komentar tersebut, Shanti mengirim sampel makanannya ke beberapa tempat untuk diteliti. Usai mengantongi hasil penelitian, Shanti justru semakin percaya diri mengolah kelopak mawar menjadi berbagai olahan mamin.

“Dari komentar teman-teman saya, saya berkomunikasi dengan teman di UNS untuk meneliti bunga mawar saya, aman atau tidak di konsumsi. Ternyata luar biasa kandungannya banyak antioksidan vitamin dan bermanfaat untuk tubuh. Dari situ saya berani untuk membuatnya. Selain keripik, mawar saya keringkan lalu saya sangrai saya buat teh mawar, kalau biasanya teh aroma melati ini aroma mawar. Selain itu saya buat sirup, saya rebus dan beri gula tanpa pewarna sudah cantik. Saya juga iseng beli alat penyulingan, memang kapasitasnya masih kecil 12 liter saja, saya buat face mist Alhamdulillah orderan banyak. Selain rose water, saya buat hand sanitizer dengan campuran alkohol dan baby oil,” paparnya.

Olahan mawar milik Santi yang dipasarkan secara daring justru menarik pengusaha bidang food and beverage ibukota untuk diolah menjadi minuman “mahal”.

“Yang order sirupnya restoran besar di Jakarta. Setiap minggu order 30 botol terus-menerus untuk campuran minuman, dessert, kue dan lain-lain,” ujarnya.

Kini daya tarik mawar Sidomulyo tengah dikembangkan bukan hanya sebagai komoditas perdagangan barang namun juga pariwisata dan jasa. Seperti wisata petik mawar dengan memanfaatkan jasa ojek motor atau jeep untuk naik menuju ke lokasi perkebunan Swargaloka. Disisi lain, ikon mawar desa Sidomulyo diabadikan dalam motif batik Sekar Lawu sebagai sarana promosi dan pemberdayaan pengrajin batik.

Dukungan Pemerintah

Dukungan pemerintah kabupaten Magetan terhadap potensi desa Sidomulyo ditunjukkan dengan pemenuhan sarana prasarana dan pelatihan guna peningkatan kemampuan masyarakat Sidomulyo, seperti diungkapkan Bupati Magetan, Suprawoto. Pemkab juga senantiasa memberi dorongan agar masyarakat mampu berinovasi demi kemajuan desa.

“Rencananya nanti kalau memungkinkan di anggaran perubahan karena alat penyulingan itu harganya relatif murah jadi mudah-mudahan tahun ini bisa. Sementara ini mau disuling untuk minyak wangi dan hand sanitizer kalau misalnya untuk sabun dan lain-lain semoga ke depan ada kreativitas semacam itu. Dinas bisa mengadakan pelatihan kalau itu memang memungkinkan,” kata orang nomor satu di Magetan itu.

Dari modal tekad dan semangat, pengetahuan, serta koneksi seorang Shanti Rochmatin, kini mulai banyak masyarakat yang berani menggarap lahannya untuk menanam mawar. Membuka mata dan kesempatan bagi peragu akan ide yang ia gagas untuk turut merasakan panen emas.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar