Puluran, Tradisi Jawa Nan Islami

KBRN, Magetan: Puluran, tradisi berbagi makanan matang atau jajanan ringan serta minuman kepada orang yang sedang berpuasa. Penyebutan puluran untuk tradisi ini dikenal di Jawa khususnya Jawa Timur. Sementara di sebagian Jawa Tengah, disebut jaburan atau jlaburan.

Puluran berbeda dengan Takjil, jika takjil disediakan menjelang berbuka puasa, puluran disediakan usai shalat tarawih. Biasanya puluran diantar ke masjid oleh dermawan untuk menyuguh jamaah yang tadarus Alquran atau melakukan aktivitas ibadah lain setelah shalat tarawih. Meski ada pula yang menyebut tradisi tersebut dengan kata takjil.

Menurut seorang pengamat budaya, Ki Suprianto Al Masarani, tradisi ini sudah dilakukan sejak islam masuk ke Indonesia. Tujuannya selain sebagai sarana bersedekah bagi dermawan yang mampu, juga untuk menarik minat masyarakat dalam memakmurkan masjid di bulan Ramadhan. Hanya saja, imbuh Suprianto, puluran hanya diberikan pada hari-hari tertentu.

“Zaman dulu masa kecil saya sekitar tahun 1970-an, di Jawa tengah, puluran itu sama dengan jlaburan. Jlaburan waktu itu hanya diadakan tiap malam Jumat saja itupun dengan makan makanan seperti ketela, singkong, pisang karena waktu itu juga larang pangan (kondisi ekonomi sulit). Tujuannya pertama untuk menarik anak-anak kecil biar ke masjid. Seperti saya juga sering bercanda ‘malem Jumat enek jlaburane, wajib teko’ (malam jumat ada jlaburan, wajib datang). Itu juga merupakan shodaqoh. Sekarang ekonomi sudah bagus daripada tahun-tahun dulu, puluran atau jlaburan bisa dibagi tiap hari,” papar Suprianto.

Saat ini, seolah seluruh masyarakat berebut untuk mengirim puluran ke masjid. Sehingga biasanya akan ada jadwal agar seluruh warga dilingkungan terdekat masjid mendapat giliran mengirim puluran. Penjadwalan dimaksudkan agar tidak ada hari yang nihil puluran. Bagi warga yang tidak mendapat jadwal tetap diperkenankan mengirim puluran dihari bebas.

Seorang warga desa Selorejo kecamatan Kawedanan Magetan, Rahayu, menyuguhkan jajanan sederhana yang dapat dinikmati oleh jamaah tadarus di mushola Al-Hidayah, mushola terdekat dari kediamannya. Dirinya mendapat jadwal puluran pada malam ke 6 Ramadhan lalu.

“Saya kemarin goreng tahu dan pisang untuk puluran soalnya anak-anak suka, mengambilnya tidak terbatas. Karena ngajinya sampai malam saya tambah dengan es teh,” kata Rahayu.

Selain jajanan, puluran favorit jamaah tadarus antara lain minuman es dan buah-buahan segar seperti dikatakan Rohma. Sehingga tak jarang, puluran semangka atau melon akan lebih cepat habis daripada jajanan berat.

“Kalau saya sukanya yang segar-segar seperti buah-buahan, semangka, melon atau es soalnya seharian kan sudah puasa jadi haus, ngaji juga haus. Kalau diantar yang segar-segar itu mata lebih menyala,” ungkapnya.

Tradisi puluran dinilai sebagai tradisi islami, bersedekah yang bernafas budaya Jawa, oleh Ustadz Santoso, salah satu pengisi acara Religi Pagi RRI Madiun. Hal ini didasarkan pada hadist yang menyebutkan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan muwasaah. Juga dikuatkan dengan hadist Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, riwayat Tirmidzi.

“Di Jawa dan umumnya di Indonesia, di bulan Ramadan itu ada adat memberi makan saat berbuka maupun setelah salat tarawih. Itu memiliki dasar hukum yang sangat kuat. Hadist yang kita ketahui dari Salman radhiyallahuanhu, Rasulullah menyampaikan di akhir bulan sya'ban beliau mengatakan bahwa bulan Ramadan adalah Syahrul muwaasah artinya bulan berkasih saying. Di bulan Ramadan kita tumbuhkembangkan sering memberi shodaqoh bagi orang-orang yang kita sayangi yang seiman dan seagama, saudara dekat, saudara jauh, tetangga dekat dan tetangga jauh. Tradisi ini sunnah dari Rasulullah shalallahu alaihi wassalam harus dibudayakan karena sudah islami. Kemudian Rasulullah mengatakan

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

‘Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga’ (HR. Tirmidzi),” ujar Ustadz Santoso.

Sangat mudah untuk membahagiakan, sangat mudah pula mendapat pahala-pahala yang dijanjikan. Selama puluran dibuat dan diantar dengan penuh keikhlasan tanpa terciprat rasa riya, inysaalah bernilai ibadah dan menambah timbangan surga.

Hani Fadilah – RRI Madiun

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar