Si Jumbo Pamelo, Segar Rasanya Segar Keuntungannya

KBRN, Magetan: Salah satu keluarga citrus bernama latin Citrus Grandis atau Citrus Maxima, Jeruk Pamelo, merupakan jeruk berukuran jumbo. Jeruk yang pertama kali dibawa oleh salah satu kapten perusahaan di India Timur ini banyak tumbuh dan dibudi dayakan di Asia, khususnya Asia tenggara termasuk Indonesia. Jeruk pamelo sering dikira sama dengan jeruk Bali karena ukuran yang sama besar, nyatanya kedua jenis tersebut berbeda. Perbedaan yang khas ialah, bulir jeruk pamelo berwarna kemerahan sementara jeruk bali berwarna putih.

Produksi jeruk jumbo di Indonesia sebagian besar berasal dari Sulawesi Selatan, Jawa Timur dan Aceh dengan rincian kontribusi produksi Provinsi Sulawesi Selatan mencapai 30,76% diikuti oleh Jawa Timur (19,61%), Aceh (10,69%) (Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, 2015). Dari sumber yang sama, tercatat bahwa kabupaten sentra produksi jeruk besar di Jawa Timur terdapat di Kabupaten Magetan, Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Madiun, dan Kabupaten Pacitan.

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2020, produksi jeruk besar tertinggi Jawa Timur terdapat di Kabupaten Magetan dengan produktivitas mencapai 185.234 ton. Sentra penghasil jeruk besar di Kabupaten Megetan terdapat di Kecamatan Bendo, Takeran, Sukomoro, dan Kawedanan (Betasuka) dengan penanaman dilakukan di ladang atau memanfaatan pekarangan rumah dan sawah baik secara monokultur ataupun tumpangsari.

Prospek keuntungan hasil tanaman jeruk sangat besar seperti diungkapkan salah satu petani jeruk pamelo desa Tamanan kecamatan Sukomoro, Kamiran. Dari setengah hektar lahan, petani bisa meraih omset hingga 100jt sekali panen.

“Tanaman jeruk itu prospeknya bagus dan menguntungkan. dengan tanaman lain kita bandingkan, jauh sekali. Ini setengah hektar (menghasilkan) 100juta. Ayo kita lestarikan tanaman jeruk karena ini prospeknya bagus dan akan membawa dampak meningkatkan kesejahteraan,” ajak Kamiran.

Saat ini, himpunan petani jeruk pamelo juga tengah mengembangkan agrowisata agar dapat meningkatkan nilai tambah (value added). Perpaduan sektor pertanian dan wisata ini dikemas dengan wisata petik jeruk dan diwacanakan wisata makan jeruk ditempat. Seorang penggagas sekaligus pemilik lahan pamelo, Suroso mengungkapkan, pada tahap awal, wisata hanya dibuka pada setiap akhir pekan (Sabtu dan Minggu).

“Hari Sabtu dan Minggu khususnya itu nanti untuk wisata petik buah sendiri, nanti silakan mau memetik jenis apa, yang seperti apa, karena jeruk itu besar kecilnya berbeda. Kedua kami persilahkan wisatawan memakan jeruk sepuasnya di pohon. Nanti akan kita rumuskan, ini masih dalam tahap penyiapan, SDA dan SDM kita siapkan,” kata Suroso.

Si bulat, pamelo, juga sudah mulai menarik minat petani milenial. Pemasaran pamelo asli Magetan kini sudah mulai merambah ke luar kota hingga manca Negara. Pemasaran digital sudah mulai dilakukan Yuda Erfin untuk menjual berbagai varietas pamelo antara lain pamelo magetan, pamelo bali merah, bali putih, adas nambangan, adas duku dan sri nyonya.

“Saya merasa prihatin terhadap sistem penjualan jeruk dari petani ke tangan tengkulak dengan harga yang sangat rendah. Dari situ saya berinisiatif mengonsep penjualan jeruk Dukuh (nama desa di kecamatan Bendo) ini, petani langsung bertemu dengan pembeli atau wisatawan, sehingga harga jual bisa tinggi. Kami punya jenis jeruk unggulan yaitu pamelo tanpa biji, selain varietas unggulan lain seperti pamelo Magetan, adas nambangan, adas dukuh,” papar Yuda, yang juga peraih gelar pemuda pelopor juara 2 tingkat provinsi.

Pemerintah mendukung berbagai inovasi petani jeruk Magetan termasuk keterlibatan milenial dan terus mendorong agar OPD terkait dapat mendampingi petani meningkatkan produktivitas melalui rekayasa pertanian. Bupati Magetan, Suprawoto berharap kesinambungan tersebut dapat menambah kesejahteraan masyarakat.

“Kalau dirawat dengan baik itu bisa didesain berbuahnya tidak hanya sekali, jangan hanya nunggu musim. Ini akan bagus sehingga di Magetan akan selalu ada buah jeruk pamelo. Kalau ada wisata jeruk petik sendiri, karena anak-anak para petani tadi sudah milenial, nanti bisa di konsep hari ini di kebun siapa kemudian di share ke wisatawan. Memetik sendiri itu ada kepuasan tersendiri. Tapi catatan kami kepada seluruh petani jangan sampai ngentol harga harus ada standar sehingga wisatawan tidak kapok,” tegas Suprawoto.

Selain itu, Suprawoto mengingatkan, agar UMKM melirik potensi  produk turunan berbahan baku jeruk pamelo juga berpeluang menjadi pundi-pundi rupiah.

Hanya dengan mengeluarkan belasan ribu saja, kesegaran jeruk raksasa, pamelo yang asam manis segar dapat memuaskan dahaga. Dimakan langsung maupun dalam olahan, dimakan sendiri maupun saat berbincang bersama rekan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar